Menyimpan sampah

on Jumat, 30 September 2016
Sejak dulu, saya bukanlah cewek yang rapi-rapi amat, bahkan cenderung clumsy haha.. Karena nge-kos waktu kuliah master ini, saya jadi suka beli barang macem-macem. Koleksi pertama adalah peralatan masak dan makan: wajan dan teflon berbagai ukuran, piring dan bowl lucu-lucu, peralatan bikin kue (yang sampai sekarang masih sekedar imajinasi), dll. Koleksi kedua adalah baju, celana, scarf dkk yang menarik mata untuk dibeli saat sale atau di toko murah meriah. Koleksi ketiga adalah benda-benda lucu yang saya optimis suatu saat akan digunakan: kertas origami, bungkus kado lucu, peralatan DIY yang impulsif dibeli, dll. Keberadaan daiso si toko 100 yen memfasilitasi pembelian-pembelian impulsif ini. Koleksi keempat adalah buku-buku. Dulu di jogja, saya berjuang nabung untuk beli buku yang bisa dibaca tuntas dalam sehari. Sekarang, saya beli buku dan saya berjuang untuk membaca tuntas buku-buku itu T_T. Oya, dengan keberadaan koleksi-koleksi itu, kamar kos saya yang ukurannya sekitar 9m persegi (termasuk dapur mini dan toilet) terasa sangat penuh.

Nah, menikahlah saya dengan mas suami yang amat sangat rapi dibandingkan dengan saya, dan dia menjunjung tinggi prinsip 'less is better'. Tiap kali pulang ke jogja, dia punya rutinitas 'ngerongsokin' barang-barang yang ada di kamar untuk mengurangi barang. Saya suka geregetan liat betapa minimalisnya baju atau alat-alat yg dipunyai dia, dan si mas pun geregetan liat saya punya barang segambreng yang digunakan entah kapan. Kami memang komplemen, saya optimis dan dia realistis. Saya optimis ketika saya beli barang, suatu saat barang itu pasti akan kepake. Sedangkan si mas realistis, beli barang dikit aja kalo perlu. Dan makin kesini, saya jadi sadar harusnya saya emang ga boleh terlalu optimis ketika beli barang..

Kapan terakhir kali saya belajar bikin origami? Kapan terakhir kali saya bikin kue? Kapan terakhir kali saya pake baju yang itu?

Tanpa saya sadari, saya menyimpan 'sampah'. Hal-hal yang engga rutin saya gunakan. Hal-hal yang engga terlalu saya sukai. Kemarin saya bantu-bantu teman packing untuk persiapan pulang ke Indonesia. Barang yang dimiliki banyak sekali sampai benar-benar kewalahan untuk packing. Total kami packing hingga 6 koper/tas besar dan ada 4 koper yang perlu dibawa ke Indonesia. Karena bagasi tidak mencukupi, dua koper dititipkan dulu di sini dan akan diambil kapan-kapan. Saya jadi ngeliat ke diri sendiri, sebegitu pentingkah punya barang banyak? Apalagi di perantauan, di mana kita memiliki mobilitas tinggi dan kapasitas yang terbatas. Sedang kesambet dengan hal-hal tentang hidup minimalis, saya pun membeli bukunya Marie Kondo yang judulnya 'the life-changing magic of tidying up'. Di bagian awal buku ini, kita diminta untuk berpikir dan merefleksikan, hidup seperti apa yang kita inginkan dan barang-barang apa saja yang bermanfaat dan memberi kebahagiaan bagi kita. Kerapian berawal dari pemilahan barang yang berguna atau tidak berguna. Jadi, masih mau menyimpan barang atau sampah?

Teori udah dapet, motivasi udah dapet, saatnya untuk memulai hidup lebih minimalis yon..

1 comment:

Ibu Karen mengatakan...

Alhamdulillah semoga atas bantuan ki witjaksono terbalaskan melebihi rasa syukur kami saat ini karna bantuan aki sangat berarti bagi keluarga kami di saat kesusahan dengan menanggun 9 anak,kami berprofesi penjual ikan di pasar hutang saya menunpuk di mana-mana sempat terpikir untuk jadikan anak bekerja tki karna keadaan begitu mendesak tapi salah satu anak saya melihat adanya program pesugihan dana gaib tanpa tumbal kami lansung kuatkan niat,Awalnya suami saya meragukan program ini dan melarang untuk mencobanya tapi dari yg saya lihat program ini bergransi hukum,Saya pun tetap menjelaskan suami sampai dia ikut yakin dan alhamdulillah dalam proses 1 hari 1 malam kami bisa menbuktikan bantuan aki melalui dana gaib tanpa tumbal,Bagi saudara-saudaraku yg butuh pertolongan
silahkan hubungi
Ki Witjaksono di:O852-2223-1459
lebih jelas Kunjungi blog
klik-> PESUGIHAN TANPA TUMBAL

Posting Komentar

speak up! ;)