Imunisasi Diri Sendiri

on Jumat, 11 Februari 2011
'Kalo udah kena cacar sekali, nanti gag bakal kena cacar lagi loh', sering gag sih dengar mitos kayak gitu? Waktu dulu akhir kelas 2 SMA si cacar air mewabah di sekolah, saya mah tenang-tenang aja karena dulu dah pernah kena cacar air waktu kelas 1 SD *dan bekasnya masih ada mpe sekarang -____-*. Katanya sih, kalo dah pernah kena cacar sekali, bakal ada antibodi yang terbentuk jadi kita gag bakal kena cacar lagi *abis ini browsing deh :p*. Mungkin cacar yang pertama akan menjadi imunisasi sehingga kita bakal resisten terhadap virus cacar, jadi gag bakal kena lagi *oke ini sotoy hehe*. Tapi ternyata ada loh orang yang kena cacar gag cuma sekali, pernah ada rumor juga adek teman saya kena cacar mpe 3 kali, serem. Mengingat betapa cacar itu sangat tidak mengenakkan, panas, gatel, terasing *gag ada orang yang mau deket2 XD*. Tapi setelah sembuh, yeah kadang meninggalkan bekas, but i've got the vaccine!*semoga untuk saya memang ada 'imunisasi' alami itu jadi gag bakal kena cacar lagi, amin*

Jadi lupa sebenernya mau nulis apa, hmmm -______-

oke saya inget!

Ketika kita sakit dan lalu sembuh, kita bakal berusaha menjauhi hal-hal yang membuat kita sakit itu gag sih?*kecuali kamu orang yang bebal dan gag peduli ama badan, LOL*. Kalo saya alergi debu, saya bakal ngehindari debu, kalo saya alergi dingin, saya bakal ngehindari dingin *ya dua hal ini susah banget lah yon -__-*, karena saya pernah tipus, saya njaga apa yang saya makan dan gag suka begadang *emang gag bisa begadang lebih tepatnya hehe*. Hal-hal yang reflek terjadi lah, kita membuat 'antibodi' buat diri kita sendiri, tanpa kita sadari.

Kadang saya ngerasa gitu juga ketika saya abis sangat sebal terhadap suatu hal. Ketika sebal, rasanya gag ngenakin banget kan, sebal=penyakit hati *sotoy lagi, tapi emang iya deh kayaknya*. Pengen segera menghilangkan rasa sebal itu dan bersikap biasa aja :D. Dan ketika saya sudah 'sembuh' dari rasa sebal itu, pengennya kan bersikap biasa aja kan ya? Tapi kadang ada suatu 'antibodi' yang tidak kelihatan *apaan deh berasa mistis* yang mencegah saya untuk bersikap biasa seperti sebelumnya. Antibodi selalu bertujuan baik kan? Melindungi kita sehingga kita tidak akan sakit lagi, ya kalaupun sakit lagi, berarti antibodi kita kalah oleh paparan virus-virus itu *apa siiih -____-*. Saya gag bisa jelasin dengan oke deh, maaf hehe. Gag usah dipikir berat, karena kayaknya hal ini emang bakal terjadi di tiap orang deh :)

So, just enjoy your world with every antibody you've got after you've recovered :D
Karena tujuan awalnya adalah untuk memagari kita supaya tidak sakit lagi :). Ada antibodi aja bisa sakit lagi, apalagi egag? Tapi jangan biarkan dia berkembang terlalu besar dan mengalahkan dirimu sendiri, kebanyakan antibodi ntar kayak penyakit lupus, membunuh diri dari dalam :(
intinya mah : pinter-pinter aja ngatur diri sendiri ya XD

p.s. : postingan kali ini rasanya random banget haha. Saya juga gag tau deh kenapa suka ambil misal-misalan gitu *mungkin karena saya orang yang suka menghubung-hubungkan sesuatu, LOL* 
p.s. : maaf kepada semua orang yang pernah saya sebelin dan saya buat sebel ^^v. Mari membuat antibodi yang tidak berlebihan :D

Diberi nila setitik, melupakan susu sebelanga

on Selasa, 08 Februari 2011
Judul yang aneh? iya :p. Harusnya kan : karena nila setitik, rusak susu sebelanga, yang artinya karena suatu hal kecil yang buruk, rusaklah semua kebaikan. Itu salah satu dari sekian sedikit *bukan sekian banyak,haha* peribahasa yang nyantel di otak saya. Saya bukan orang yang terlalu suka berbasa-basi pake peribahasa sih :p

Saya juga gag tahu judul itu bakal nyambung gag ama curcol kali ini, hehe.

Kadang saya merasa saya sudah berusaha cukup keras untuk suatu hal, dan berani untuk berekspektasi tentang hal tersebut. Apa yang akan saya capai, apa yang akan saya raih, bahkan apa yang akan saya lakukan setelah meraihnya. Memang bukan sesuatu yang menjadi tujuan hidup saya sih *bosone rada abot ki*, ya mungkin akan menjadi salah satu parameter tujuan saya ke depannya. Kayaknya sih saya orang yang cukup bersemangat ketika mengerjakan sesuatu, dan kadang susah fokus di beberapa hal ketika saya sedang bersemangat di salah satu hal. Kadang saya melupakan hal lain *jadi inget postingan saya yang ini*, dan benar-benar fokus di hal itu. Ya tidak salah kan? Asal jangan kebangetan sih yon, hehe..

Nah, ketika hal yang saya usahakan itu tidak berjalan sesuai yang saya harapkan, saya kok merasa lemes, lesu, tidak bersemangat :( *semua orang pasti gitu ya -____-*. Ya pokoke merusak mood lah untuk sesaat.  Saya cukup sering nonton om mario ngasi petuah-petuah : 'kegagalan itu awal keberhasilan, makin besar kegagalan, makin besar keberhasilan yang akan diraih, dll'. Kata-kata semacam itulah yang sering saya dengar dan saya tanamkan dalam hati, bahwa saya harus percaya hal itu. Tapi ketika saya sampai di titik 'ketidak berhasilan itu', ya tetep ada rasa kecewa. Wajar gag sih? Rasanya masih sulit untuk legowo dalam waktu singkat..

Saya melakukan random talk lagi tadi dengan diri saya, dan menyadari bahwa hal-hal yang sama sekali tidak saya ekspektasikan, justru akan menjadi lebih baik. Saya menganggap usaha saya tidak ada apa-apanya, sangat kurang, dan tidak fokus. Minder melihat orang-orang lain yang berusaha jauh lebih keras daripada saya, menghabiskan waktu mereka untuk fokus di situ, sementara saya kadang 'sakmlakune wae' *bahasanya gag oke hehe*. Dan ternyata justru disitu saya diberikan apa yang melebihi harapan saya, melebihi yang saya perkirakan, padahal saya sudah bersiap untuk yang terburuk.

Ekspektasi memang penting, harapan memang penting, impian memang penting, apalagi usaha yang keras kan? Dan dibutuhkan juga mental yang keras untuk mendapatkan semuanya itu. Ketika 'ketidak berhasilan' itu mendatangi saya hanya melihat pada hal itu saja, merasa yang saya lakukan kemarin sia-sia. Tetapi ketika melihat dari berbagai hal dalam satu hari kehidupan saya, ternyata banyak hal-hal di luar ekspektasi dan harapan saya, yang seharusnya membuat saya bersyukur. Kadang ketika saya diberi 'nila setitik', lalu saya melupakan 'susu sebelanga' yang telah Allah berikan kepada saya. Astaghfirullah..

Ya intinya saya ingin menyemangati diri sendiri saja sih, bahwa saya harus berusaha lebih keras lagi, dan menyiapkan mental yang lebih keras lagi, dan bersyukur lebih keras lagi atas 'susu' yang lebih deh dari sebelanga yang diberikan Allah kepada saya :D

p.s. : jangan merasa sudah berusaha keras, karena ada yang berusaha jauh lebih keras, mungkin hanya mereka tidak menyadarinya saking sudah terbiasanya mereka berusaha keras :)

Energy Drink, perlukah?

on Senin, 07 Februari 2011
Pagi ini saya membaca sebuah artikel menarik di nytimes.com, judulnya Scientists See Dangers in Energy Drinks. Tumben banget nih saya bacaannya new york times, hahaha. Tadi sempet baca blog temen dan dia bilang bahwa ini website yang wajib dikunjunginya tiap hari. So, I tried it!

Dengan bahasa Inggris yang pas-pasan, apalagi ini bahasa biasa digunakan di New York Times kata teman saya adalah American English yang slang dan gag kayak bahasa Inggris biasanya *emang yang biasanya kayak gimana? saya juga gag tau :p*, saya mulai membaca artikel itu. Intinya para scientist khawatir mengenai tingginya kadar kafein dalam minuman-minuman berenergi yang beredar bebas di pasaran, apalagi minuman-minuman berenergi memang punya popularitas yang tinggi di masyarakat, mulai dari orang tua sampai anak-anak, semua menyukainya *rasanya enak sih :p*

Penelitian-penelitian yang sudah ada sebelumnya menyebutkan bahwa minuman dengan kadar kafein yang tinggi dapat memicu penurunan kebugaran seseorang, misalnya berefek pada tekanan darah, detak jantung, dan fungsi otak. Konsumsi minuman berenergi dalam jangka pendek memang belum menunjukkan hal-hal yang negatif terhadap tubuh, tapi para ahli mempertanyakan efeknya ketika seseorang mengonsumsi berbagai minuman itu dalam jangka waktu yang lama. Mereka memperkirakan akan muncul resiko tinggi terhadap penyakit liver dan kardiovaskuler, resistensi insulin, dan diabetes pada penggunaan dalam waktu yang lama.

Minuman-minuman berenergi memang bisa beredar luas di pasaran karena FAO *BPOMnya Amerika* belum memiliki peraturan yang ketat mengenai produk-produk ini, dimana belum ada batasan-batasan yang jelas mengenai zat-zat yang terkandung dan jumlah maksimalnya dalam produk-produk tersebut. Hal ini menyebabkan produsen bisa dengan bebas memberi label kepada produk, misalnya 'enhances athletic performances' atau 'inrease caloric burn and mental sharpness' *sering kan kita dengar iklan-ikan minuman berenergi dengan slogan yang kurang lebih sama?*. Strategi marketing memang menjadi bagian penting dari penjualan produk ini, dimana minuman berenergi selalu diidentikkan dengan minuman yang modern dan cool *liat aja iklan produk yang menampilkan anak muda lemes-lemesan kerjanya, seminggu kemudian langsung semangat gila-gilaan kayak abis dapet dopping, lebay -____-*

Minuman berenergi biasanya mengandung gula dengan kadar tinggi *makanya rasanya enak kan*, dan ternyata bagi para atlet yang melakukan latian dalam porsi berat, tingginya kadar gula ini justru akan menyebabkan dehidrasi *berlawanan ya ama iklan yang katanya 'mengganti ion tubuh' dan gag bikin dehidrasi itu? tapi saya juga belum tahu produk itu kadar gulanya berapa*. Zat lain yang biasanya ditemukan dalam minuman berenergi adalah taurine, glucuronolactone, vitamin B, ginseng, ginko biloba, dan guarana. Biasanya vitamin B dijadikan 'alibi' sehingga minuman tersebut akan terkesan lebih sehat, tapi kalau kita sudah cukup mengonsumsi vitamin setiap hari, malah akan berbahaya kan?

Hmmm, saya rasa memang peredaran minuman berenergi ini masih terlalu bebas. Semua bisa membelinya di warung-warung dekat rumah, dari anak kecil hingga orang tua, dari yang memang butuh minuman ini sampai yang 'kecanduan' dengan minuman ini. 

Saya jadi ingat dengan kakek saya *biasanya saya memanggil beliau : kai, itu bahasa banjar hehe*. Nah, almarhum kai saya adalah orang yang sangat suka beraktivitas, ke sana kemari, bolak balik jogja-banjarmasin untuk menengok cucunya, ke berbagai kota untuk ikut penataran, dan macem-macem lainnya. Dan kakek saya suka sekali mengonsumsi minuman-minuman berenergi, banyak macam-macamnya, mungkin untuk menunjang fisiknya karena kegiatan yang seabrek itu. Saking 'kecanduan'nya dengan minuman berenergi, selalu ada persediaan minuman berenergi di kulkas, bahkan ada lemari tersendiri untuk menyimpan produk-produk yang sachet-an. Heboh lah pokoknya :p

Dan tanpa kami sadari, kondisi kai tiba-tiba drop pada tahun 2003-an *kalo saya gag salah ingat*. Padahal sebelumnya jarang sekali masuk rumah sakit, dan saat itu saya baru pertama kali melihat kai yang lemas gag bisa ngapa-ngapain. Diagnosa dokter sangat mengagetkan : kai sakit liver, tapi saya gag tau itu kanker atau sirosis atau penyakit liver yang lain *saya masih kecil gag pernah tanya2 sih :(*. Dan kai hanya bertahan 6 bulan setelah diagnosis itu :')

Hmmm, saya jadi ngehubung-hubungin nih, mungkinkah rusaknya liver itu karena segala produk-produk minuman berenergi itu? Mungkin saja, karena penggunaannya jangka panjang kan, setiap hari pula. Yaa, mewanti-wanti diri saya sendiri sih, konsumsilah minuman seperti itu kalau perlu saja, jangan sampe 'kecanduan' :)

Si Galau!

on Sabtu, 05 Februari 2011
Beberapa waktu yang lalu lagi nge-trend tuh kata 'GALAU', apalagi sekitar bulan Desember 2010 kemaren. Rasanya cuaca mendung *oke dalam arti harafiah juga, ujan mulu, tapi maksudnya suasana sih*, dimana-mana liat orang muram, berasa hidup berat banget, bikin status yang 'galau' pula di fb *haha saya juga termasuk :p*. Dan banyak yang pengen Desember cepet berlalu, gag keitung deh berapa status temen saya yang bilang kayak gitu, dan berapa pula yang di kehidupan nyata *bukan dunia maya* bilang kayak gitu. Pokoknya si galau lagi booming banget, nge-trend banget, kalo bisa jadi TT deh di kehidupan nyata :p

Dan ternyata si galau gag cuma hinggap di kampus aja. Pas saya ketemu sama temen-temen SMA yang lagi mudik, eh pada ngomongin kegalauan masing-masing pula, astagaaaa. Jadilah kita bukannya ngomongin hal-hal yang menyenangkan, tapi sharing kegalauan masing-masing, yah kadang juga menertawakan kenapa kami galau gara-gara hal aneh,haha. Dan dari cerita-cerita itu, saya ngerasa alasan saya buat galau tu gag banget deh -______-" *suatu saat saya juga bakal ketawa kali nginget-nginget kegalauan-kegalauan yang lain*

Saya orang yang suka hidup dengan tenang, kayaknya selama ini saya bisa me-maintain hal-hal dalam diri saya dengan cukup baik, tidak terlalu meledak-ledak, kalem, setidaknya sampai SMA saya anak yang seperti itu. Tapi kok makin lama saya mengenali diri saya, malah makin galaulah saya? Nah lho -______-"

Kadang saya ngerasa bego deh, kenapa hal-hal remeh temeh bisa bikin saya galau? Kenapa orang lain bisa bikin kita galau? Padahal saya tahu gag ada untungnya pula saya galau mikirin hal-hal itu atau orang lain atau apalah itu. Buang-buang waktu, buang-buang energi, buang-buang tempat di otak buat mikirin kayak gitu, gag worthed sama sekali -____-". Ya tapi itulah hidup, kata sahabat saya si fahmoy : 'perasaan itu kan gag eksak yon' *thx for reminding me :)*. Saya orang yang cukup eksak rasanya, pengen ini itu dan mengendalikan perasaan saya sendiri, gag tergantung dengan keadaan sekitar. Yeah but she's right, perasaan itu gag eksak :)

Dan tidak selamanya galau itu olo ternyata. Gara-gara berbagai kegalauan, akhirnya terketuklah tangan saya untuk menulis, curhat di diary saya *bukan blog iniiiiii, ya ada beberapa yang lalu saya tulis disini, haha*. Padahal saya gag suka nulis tuh dulu, tapi terus saya mencoba, gimana ya perasaan saya kalo saya marah-marah di diary? Gimana ya perasaan saya kalo saya maki-maki orang di diary?*huahaha, it felt so good*. Hehe, oke saya tau itu engga banget, tapi toh gag ada yang baca selain saya dan Allah SWT :) *saya gag kebangetan kok maki-makinya :p*. Sometimes it makes me feel better, saya nyesel kenapa gag dari dulu aja saya punya diary?*karena saya dulu gag suka galau :D*

See? Galau juga punya good effect ternyata :D. Membuat saya menyadari bahwa menulis tidak seburuk yang saya bayangin dulu. Galau membuat saya lebih mengenali diri saya juga, dan membuat saya menyadari begitu banyak karakter orang di sekitar kita, gag semuanya bisa sesuai dengan kita. Kita emang selalu berusaha menjadi orang baik untuk semua orang, tapi kadang itu gag bisa kita lakukan. Terus haruskah kita bergalau ria?*kayaknya frase ini gag oke : galau ria* Ya kadang perlu, kadang egag.. Saya percaya yang harus kita berikan yang terbaik itu adalah diri saya, keluarga saya, dan orang-orang yang dekat dengan saya. Amiin :)

Sekarang Februari, masih adakah sisa-sisa kegalauan itu? Yaaaah, nanti juga akan ada masanya 'jam 12.00 siang' itu dateng, nikmatin aja deh yang sekarang, galau kek egag kek, saya akan belajar memandang itu semua dari kacamata positif :)

Terimakasih untuk 'pelindungku' :')

on Jumat, 04 Februari 2011
Deg deg deg, ngeliat kick andy malem ini. Temanya : Sex Bebas di Kalangan Remaja. Rasanya begitu dekat dengan dunia kita *saya masih bisa dibilang remaja kan?:p*. Bukan dalam artian saya dekat dengan dunia seperti itu ya!*awas mpe salah kaprah*, tapi menyadari bahwa mereka seumuran dengan saya, bahkan lebih muda dari saya, hmmm, menakutkan rasanya -____-"

Nih salah satu alasan jual diri dari Bunga *nama disamarkan* : pergaulan bebas, uang jajan *uang jajan 50ribu sehari gag cukup, whaaaaaaat???astaga heran banget sehari ngapain aja neeeeng, hidup di USA??*

Ada lagi  yang umur 19 tahun jadi gigolo *sama tuanya dengan sayaaaaa*. Kelas 6 SD sudah melakukan sex. Astaghfirullah.. :(

Penyebab?
- anak-anak punya banyak tantangan di lingkungan sekitarnya
- ortu gag siap  menjadi orangtua bagi anak2 yang hidup di era digital
- ortu terlalu sibuk, ada secara fisik, tapi gag ada secara emosional

Saya bukannya mau menutup mata terhadap hal-hal seperti itu, apalagi saya hidup di Jogja yang kota mahasiswa dan dulu pernah ada rumor bahwa tingkat sex bebas di sini sangat tinggi. Emang bener sih pergaulan itu memegang peranan utama dalam hal kayak gini. Salah pergaulan, gag kuat iman, orangtua tidak ada secara emosional, ketiganya akan menjadi kombinasi yang 'pas' untuk bisa terjerumus ke dalam hal-hal seperti itu.

Kadang-kadang saya sering merasa orangtua saya over dalam mengawasi kegiatan saya. 
'Hari ini mau ngapain aja?'
'Ama sapa aja?'
'Di kampus ngapain aja?'
'Kok jam segini baru pulang?'
'Kalo pulang lewat maghrib langsung sms atau telpon!'
'Anak cewek kok pulang jam segini, jam 9 belum mpe rumah'
'ke pantai? sama sapa? temennya sapa aja? gag boleh'

dulu waktu SMA seriiiiiiiiiing sekali mendengar hal-hal seperti itu. Alhamdulillah sekarang waktu kuliah sudah tidak se-ekstrim itu :)

Dan memang ya, kadang saya merasa kok jadi orangtua tu serba salah banget. Terlalu perhatian, salah.. *entah mengapa dulu saya merasa hal-hal kayak gitu sangat mengekang, temen-temenku boleh, kenapa aku egag??*. Gag perhatian,  anaknya entar kemana-mana..

Sekarang baru deh sadar, kenapa mama selalu ceriwis malah seperti itu *walaupun kadang agak parno*, tapi sekarang baru sadar betapa pentingnya itu. Ya saya dulu iri melihat teman-teman saya yang bisa bebas maen ke sana-sini, bisa nginep sana-sini, bisa pergi ke mana-mana. Tapi tiap orangtua punya cara terbaik kan untuk memberikan perhatiannya? Dan saya baru sadar sekarang, kalau yang dulu papa mama lakukan itu memang benar. Hanya kelabilan dan kekanak-kanakan saya saja dalam menanggapinya, sehingga saya kadang merasa terkekang.

Hmm, menjadi orangtua memang tidak akan mudah. Apalagi di jaman sekarang yang semua informasi baik dan buruk bisa didapat dalam hitungan detik. Semoga setelah ini saya semakin mengerti orangtua saya dan tidak akan merasa dikekang deh dengan aturan-aturan baku dalam rumah, hehe. Maaf ya mama papa.. terimakasih buat semua perhatiannya, penghargaan, dan pujiannya :')

p.s. : Semua pasti dilindungi oleh Allah SWT? :) 
orangtua hanya salah satu sarana untuk melindungi diri kita masing-masing, amin..