Manipulasi di sekeliling kita

on Sabtu, 22 Oktober 2016

Jarang-jarang saya menulis topik seperti ini, psikologi. Selama beberapa saat terakhir, saya makin tersadar bahwa orang itu sangat beragam. Melalui beberapa cerita dan pengalaman saya sendiri, saya baru menyadari bahwa ada orang dengan tipe 'manipulatif'. Saya pribadi adalah orang yang mungkin cukup mudah 'dimanipulasi', haha. Kalau kata mas suami, saya orangnya terlalu positive thinking sehingga kurang waspada. Apalagi saya orangnya 'ga enakan', yang menyebabkan susah sekali saya untuk bilang 'tidak'. Nah, orang-orang macam saya ini harus berhati-hati dengan orang yang 'manipulatif'.

Setelah googling, terdamparlah saya membaca artikel ini . Berbagai tanda manipulasi yang bisa kita lihat dari seseorang adalah:
  • orang tersebut akan membuat kita merasa lemah dan bingung, serta membanding-bandingkan kita dengan orang lain untuk membuat kita merasa tidak baik
  • orang tersebut tidak memberikan waktu yang cukup bagi kita untuk mengambil suatu keputusan (melalui tekanan yang diberikan)
  • tidak ada penyelesaian masalah sehingga masalah menjadi berlarut-larut
  • terkait dengan poin 1, orang tersebut akan membuat kita kehilangan kepercayaan diri
  • orang tersebut akan membuat kita selalu berada di luar zona nyaman
  • orang tersebut akan meminta banyak hal-hal kecil pada kita, dan ketika kita tidak dapat memenuhi hal-hal tersebut, mereka akan merasa menang
  • jika terdapat masalah, orang tersebut akan mendiamkan kita (silent treatment) yang bertujuan untuk membuat kita mengalah
Hal yang pasti setelah kita terjebak dalam lingkarang manipulasi adalah 'drama' berkepanjangan dan kelelahan secara mental. Manipulasi ini bisa terjadi di mana-mana dan tentunya yang sangat menguras mental adalah jika terjadi tempat kerja dan keluarga. Tarik nafas, lihatlah dari 'jauh' apa yang sedang terjadi. Untuk saya pribadi, saya mencoba cari sudut pandang lain dan konfirmasi dari orang-orang lain yang pernah berhubungan dengan sang manipulator. Adakah yang punya tips atau pandangan lain?

Menyimpan sampah

on Jumat, 30 September 2016
Sejak dulu, saya bukanlah cewek yang rapi-rapi amat, bahkan cenderung clumsy haha.. Karena nge-kos waktu kuliah master ini, saya jadi suka beli barang macem-macem. Koleksi pertama adalah peralatan masak dan makan: wajan dan teflon berbagai ukuran, piring dan bowl lucu-lucu, peralatan bikin kue (yang sampai sekarang masih sekedar imajinasi), dll. Koleksi kedua adalah baju, celana, scarf dkk yang menarik mata untuk dibeli saat sale atau di toko murah meriah. Koleksi ketiga adalah benda-benda lucu yang saya optimis suatu saat akan digunakan: kertas origami, bungkus kado lucu, peralatan DIY yang impulsif dibeli, dll. Keberadaan daiso si toko 100 yen memfasilitasi pembelian-pembelian impulsif ini. Koleksi keempat adalah buku-buku. Dulu di jogja, saya berjuang nabung untuk beli buku yang bisa dibaca tuntas dalam sehari. Sekarang, saya beli buku dan saya berjuang untuk membaca tuntas buku-buku itu T_T. Oya, dengan keberadaan koleksi-koleksi itu, kamar kos saya yang ukurannya sekitar 9m persegi (termasuk dapur mini dan toilet) terasa sangat penuh.

Nah, menikahlah saya dengan mas suami yang amat sangat rapi dibandingkan dengan saya, dan dia menjunjung tinggi prinsip 'less is better'. Tiap kali pulang ke jogja, dia punya rutinitas 'ngerongsokin' barang-barang yang ada di kamar untuk mengurangi barang. Saya suka geregetan liat betapa minimalisnya baju atau alat-alat yg dipunyai dia, dan si mas pun geregetan liat saya punya barang segambreng yang digunakan entah kapan. Kami memang komplemen, saya optimis dan dia realistis. Saya optimis ketika saya beli barang, suatu saat barang itu pasti akan kepake. Sedangkan si mas realistis, beli barang dikit aja kalo perlu. Dan makin kesini, saya jadi sadar harusnya saya emang ga boleh terlalu optimis ketika beli barang..

Kapan terakhir kali saya belajar bikin origami? Kapan terakhir kali saya bikin kue? Kapan terakhir kali saya pake baju yang itu?

Tanpa saya sadari, saya menyimpan 'sampah'. Hal-hal yang engga rutin saya gunakan. Hal-hal yang engga terlalu saya sukai. Kemarin saya bantu-bantu teman packing untuk persiapan pulang ke Indonesia. Barang yang dimiliki banyak sekali sampai benar-benar kewalahan untuk packing. Total kami packing hingga 6 koper/tas besar dan ada 4 koper yang perlu dibawa ke Indonesia. Karena bagasi tidak mencukupi, dua koper dititipkan dulu di sini dan akan diambil kapan-kapan. Saya jadi ngeliat ke diri sendiri, sebegitu pentingkah punya barang banyak? Apalagi di perantauan, di mana kita memiliki mobilitas tinggi dan kapasitas yang terbatas. Sedang kesambet dengan hal-hal tentang hidup minimalis, saya pun membeli bukunya Marie Kondo yang judulnya 'the life-changing magic of tidying up'. Di bagian awal buku ini, kita diminta untuk berpikir dan merefleksikan, hidup seperti apa yang kita inginkan dan barang-barang apa saja yang bermanfaat dan memberi kebahagiaan bagi kita. Kerapian berawal dari pemilahan barang yang berguna atau tidak berguna. Jadi, masih mau menyimpan barang atau sampah?

Teori udah dapet, motivasi udah dapet, saatnya untuk memulai hidup lebih minimalis yon..

Belajar apa hari ini? [3] : Tsuyu (梅雨)

on Rabu, 25 Mei 2016
Malam ini saya pulang ke dormi bareng dengan Megumi, senpai tersayang saya di lab. Dia ini orangnya pendiam (kalau di lab), tapi kalau udah menjelaskan sesuatu tentang jejepangan kepada saya, wuih selalu bersemangat sekali! Saya selalu dapat pengetahuan baru tiap kali ngobrol panjang dengannya, sayang yang pengetahuan dulu-dulu udah banyak yang menguap karena saya males nulis. Kali ini, kami membahas tentang 'tsuyu (梅雨)'. Makhluk apakah itu?

Jepang adalah negara sub-tropis. Oleh karena itu, ada 4 musim yang menyebabkan pemandangan berganti dengan cantik setiap 3 bulan. Sekarang akhir Mei, saatnya mulai memasuki musim panas. Ternyata selain 4 musim utama (musim panas, gugur, dingin, semi), orang Jepang memiliki kategori-kategori musim yang lain. Total ada 24 kategori, yang berarti ada 2 'musim' setiap bulan! Duh, karakter orang jepang dalam memperhatikan hal-hal yang detail memang luar biasa sekali.. Ke 24 musim tersebut bsia dilihat di sini. Saat ini (akhir Mei), Jepang memasuki musim Shoman di mana tanaman-tanaman mulai berbuah. Selain musim Shoman, hujan yang lembab juga sudah mulai turun di Jepang. Nah musim hujan inilah yang disebut 'tsuyu (梅雨)'. Kanji 'tsu' (梅) berarti ume/buah plum, sementara kanji 'yu' (雨' berarti hujan; jika dihubungkan berarti 'hujan ume'. Musim hujan, dan mulai musim panennya buah plum. Di Indonesia jangan-jangan ada musim-musim yang namanya spesifik seperti ini juga ya? Saya aja yang engga perhatian T_T

source

Belajar apa hari ini? [2] : Buku

on Selasa, 24 Mei 2016

Malam ini, saya menemukan foto ini saat scrolling fb. Perihal penutupan sebuah toko buku yang diperbincangkan oleh beberapa orang. Berbagai spekulasi dilontarkan orang, mulai dari monopoli percetakan dan perdagangan buku fisik oleh salah satu penerbit ternama, era digitalisasi yang menyebabkan masyarakat lebih suka membaca di layar smartphone daripada buku fisik, hingga minat baca masyarakat yang cenderung menurun. Banyak pihak menyayangkan hal-hal tersebut.

Melihat hal tersebut, saya mengingat-ingat, kapan terakhir kali saya 'membaca buku'? Hmm.. sekitar dua minggu yang lalu. Dalam setiap kesempatan menuliskan biodata, saya selalu menulis 'membaca' sebagai hobi. Tidak salah sih, toh saya 'membaca' setiap hari. Membaca chat, membaca socmed, membaca paper (pencitraan :p), dan kadang saja membaca buku. Berbeda dengan beberapa tahun yang lalu, bahkan saat saya masih kecil di mana saya benar-benar keranjingan membaca buku; saat ini, menghabiskan sebuah buku terasa memerlukan effort yang lebih. Kalau untuk saya, ada dua hal yang menyebabkan penurunan minat baca: era digital dan pemilihan tema buku. Era digitalisasi terkadang membuat saya merasa 'overload' infomasi, sehingga tenaga habis dan malas membaca buku fisik. Interaksi dengan orang-orang tersayang melalui socmed turut mempengaruhi seringnya saya memegang smartphone, dan tergoda untuk membaca hal-hal yang mungkin tidak penting dan perlu untuk dibaca :p. Alasan penurunan minat baca yang kedua adalah pilih-pilih tema. Rasanya sekarang waktu terasa 'eman-eman' untuk membaca novel tentang percintaan atau hal-hal yang terlalu menye-menye. Padahal, dulu sepertinya saya tidak pernah terlalu pilih-pilih tema, hehe.

Ah, sepertinya nanti kalau pulang ke Jogja, perlu membeli buku-buku, untuk meningkatkan perekonomian buku Indonesia! Hahahaha :)))))

Belajar apa hari ini? [1]: Mati

on Senin, 23 Mei 2016
Malam ini akhirnya saya menamatkan drama Jepang berjudul "Shirai Kyoto". Drama ini bertemakan dunia kedokteran dan mengungkap intrik maupun perjuangan yang dilakukan oleh para dokter untuk profesi mereka. Drama ini cukup menguras hati dan menggemaskan bagi saya ketika melihat lika-liku profesi medis (yang juga mungkin terjadi di profesi lainnya). Namun, di episode terakhir saya tidak bisa berhenti menangis. Pelajaran apa yang saya dapat dari ending drama ini?

"Kematian yang sesungguhnya adalah ke-tidakbermanfaat-an kita bagi semesta. Sejauh dirimu bermanfaat, hidupmu adalah abadi bagi semesta."

What I Wish I knew When I Was 20 - Tina Seelig

on Minggu, 08 Mei 2016



Banyak quotes, buku, atau orang yang mengatakan: ambil risiko! Buku ini salah satunya. Prof. Tina Seelig adalah seorang Ph.D neurologist yang saat ini mengajarkan tentang enterpreneurship kepada mahasiswa jurusan teknik di Stanford. Bagaimana bisa seorang neurologis berbagi tentang enterpreneurship, kepada mahasiswa teknik pula? Dalam buku ini, Prof. Tina menuliskan pengalaman-pengalaman beliau, maupun cerita orang-orang yang pernah beliau temui, tentang mengambil risiko, menerima kegagalan, berpindah 'jalur', dan beberapa jenis interaksi yang terjadi pada kehidupan.

Saya mendeskripsikan diri sebagai orang yang "lurus". I was (or am?) a not big risk taker. Saya lebih suka segala sesuatu berjalan dengan peta yang telah saya buat sebelumnya. Saya menerima beberapa kegagalan di masa lalu, tapi lebih banyak waktu saya habiskan untuk merancang 'plan hidup' yang cukup detail dan tertarget. Beberapa bulan ini, saya rasanya cukup proscinating untuk menggalaukan beberapa hal yang tidak sesuai dengan rencana awal. Membaca buku ini, memberikan saya pandangan untuk bersikap lebih fleksibel, tidak terpaku pada rencana-rencana yang pernah dibuat (karena sangat mungkin hal itu justru 'membatasi' diri kita), dan terbuka pada kegagalan. Kegagalan mungkin justru mirip dengan obat, pahit tapi jika tahu khasiatnya kelak, kita akan menelannya apapun itu.

Ini beberapa petikan di buku yang menarik bagi saya.



"It is better to know a few things that are really against the rules than to focus on the many think you should do."

"Some look inside themselves for motivation and others wait to be pushed forward by outside forces"

"One of the best ways to move from one field to another is to figure out how your skills can be translated into different settings"

"The key to success is not dodging every bullet but being able to recover quickly"

"When I was in my early twenties, it was surprisingly difficult for me to separate what I wanted for myself and what others wanted for me"

"Most people change course many times before finding the best match for their skills and interests"

"Being to set on your path too early will likely lead you in the wrong decision"

"Planning a career should be like traveling in a foreign country"


Masih ada beberapa lagi, tapi lebih baik jika dirimu membacanya sendiri! Happy reading! :)

Bersyukur

on Minggu, 24 April 2016


"Orang yang tidak puas itu bukan berarti tidak bersyukur. Jika seseorang mudah puas, lalu menjadi malas dan tidak ingin belajar hal yang baru atau menjadi lebih baik lagi, bukankah itu yang namanya tidak bersyukur?"

Ramadhan Praditya Putra, 2016

November's playlist

on Selasa, 17 November 2015
Do you?



Love me


Wait there


I could see you



Destiny of love



kalau digabungkan: Do you love me? Wait there. I could see you, destiny of love.


playlist minggu ini menemani rutinitas di lab dan lain-lain adalah dari om Yiruma yang dentingan pianonya selalu menyentuh kalbu :'). Saya baru menyadari, judul lagunya begitu cheesy (atau romantis?) dan bisa dirangkai dengan indahnya~

Ah, sudah lama saya tidak se-cheesy ini di blog :p
satu bulan lagi, menanti kepulangan ke kota tercinta, bertemu dengan orang-orang kesayangan, dan akhirnya menggenapkan hati ini. Bismillah..

Idealis Realistis

on Jumat, 26 Juni 2015
Idealis dan realistis.

Beberapa orang mengatakan, bahwa idealis adalah lawan kata dari realistis. Orang yang idealis, cenderung keras (terutama keras kepala), berkemauan kuat, pekerja keras, tetapi dapat kecewa begitu dalam jika ada hal-hal yang tidak terlaksana sesuai dengan harapannya. Sementara itu, orang yang realistis cenderung untuk melakoni apa yang di depan mata, menerima, tetapi sering dianggap untuk lemah dalam mengejar cita-cita, atau mengejar sesuatu berdasarkan materi. Terkadang, realistis mungkin berkorelasi dengan 'oportunis' :)

Haha, itu sih hasil diskusi kami. Gomen kalo analisisnya ngaco, tapi itu yang terlihat dari orang-orang yang kami kenal :)

Lalu doanya, semoga bisa menjadi orang yang idealis dan realistis. Idealis untuk menjalankan hal-hal yang diinginkan, dan realistis jika ternyata mendapatkan hal yang diinginkan tidak semenarik awalnya, realistis ketika hal-hal yang diinginkan ternyata juga tidak sesuai harapan :))

kalian yang mana?

Alamat baru, bukan alamat palsu

on Rabu, 29 April 2015
Halo! Libur tlah tiba, yeay! *apa-apaan sekolah aja baru mulai udah libur aja*

Hehe, di sinilah alamat saya sekarang: Student Dormitory 1, 89165-5 Takayama-cho, Ikoma-shi, Nara aka kampus NAIST Jepang. Setelah sekian lama engga gombal di blog, akhirnya saya kangen juga coret-coret disini :'). Sekarang tanggal 29 April, 29 hari sudah saya berada di belahan bumi ini, resmi menjadi anak kos yang apa-apa harus melakukan sendiri. Ah, tiba-tiba saya merindukan wangi masakan mama di pagi hari ketika baru membuka mata. Tapi kata papa, saya jadi tambah kreatif disini karena rajin masak hehehe. Alhamdulillah deh, emang kayaknya cewek itu sebelum nikah harus pernah merantau dulu biar bener-bener ngerasain ngurusin rumah. Eh engga tahu sih, semua cewek atau jangan-jangan saya aja yang dulu manjanya kebangetan dirumah :')

29 April, hari ini adalah hari libur di Jepang, yang bernama 'Showa Day'. Showa Day ini adalah hari lahir Kaisar Showa (Kaisar Hirohito) yang memimpin Jepang pada 1926 hingga 1989. Anw, di Jepang ini hari libur nasionalnya lumayan banyak. Setahun ada 28 hari dan ada hari-hari libur yang berdekatan sehingga bisa dipakai untuk liburan agak jauh hehe. Sebut saja golden week di akhir April-awal Mei, Obon di bulan Juli, dan libur akhir tahun. Katanya, libur yang banyak ini diberikan pemerintah agar orang Jepang tidak terlalu keras bekerja. Memang sih, liburan aja di kampus tetap ada aja tuh orang-orang yang ngelab. Memang kaum pekerja keras sekali :)

Beberapa teman suka tanya: udah homesick blom yon? Alhamdulillah juga rasanya engga homesick-homesick banget. Paling saya cuma ngiler kalo dikirimin foto-foto makanan dari rumah, semacam ayam kremes Pak Topo, sate klathak, yamie sagan, waroeng steak, hmmm. Mencari makanan halal di daerah Nara adalah hal yang cukup sulit, sehingga pilihan yang paling enak adalah masak sendiri. Itung-itung nambah skill kerumahtanggaan ;)

Yah, semoga akan lebih banyak hal-hal yang bisa saya ceritakan disini. Untuk pengingat nanti cerita ke anak cucu :p Barusan nemu quote bagus: Fill your life with experienes, not things. Have stories to tell, not stuff to show.

dapet salam dari rusa di Nara Park ;)



Hidup mewah

on Senin, 23 Maret 2015
"Saya dan mas heru ini istilahnya 'iri' lho dengan mbak mas, tapi iri yang baik yang menjadi motivasi supaya nanti anak-anak kami bisa lebih baik dari mbak mas"

Mbak Leni, dengan cerianya berceloteh tentang kehidupannya. Hari itu kami, saya dan mas, sedang ngobrol tentang persiapan acara kami dengan Mbak Leni dan Mas Heru, pemilik Kebun Asri Decoration. Sepaket suami istri yang kocak dan menyenangkan. Ngobrol ngalor ngidul tidak hanya masalah kerjaan tapi juga berbagi cerita kehidupan.

"Hidup di Jogja itu enak dan nyaman.."

Ucapan anak-anak yang gagal move on dari Jogja pun muncul lagi. Anak-anak yang gagal move on apalagi melihat manusia-manusia yang sangat menikmati kehidupan "nyaman" di Jogja. Hidup "mewah" menurut saya adalah: tinggal di kota yang nyaman dan bersahaja (Jogja nomor satu!), bersama keluarga, dan mengerjakan hal-hal yang dicintai. Jika Mbak Leni dan Mas Heru 'iri' dengan kami, begitu pun kami 'iri' dengan hidup mewah mereka :')

Tapi, kami harus "pergi" sementara dari segala kenyamanan ini. Zona aman yang memang melenakan, untuk kemudian kembali lagi disini semoga dengan membawa sejuta pengalaman berarti. Semoga :)

Cheers!

np: Distance Pixelated - Jeremy Passion

Berkemas

on Minggu, 25 Januari 2015
Mataku mengerjap. Refleks kutekan tombol on handphone, mengerjap sekali lagi, kali ini terkejut. Pukul 02.07 am. Hal yang luar biasa mataku masih bertahan hingga saat ini, setelah sejak pagi aku tidak memejamkan mata sedikit pun. Tersadar sekarang aku melewati "ambang batas kantuk"-ku. Kulirik cangkir kopiku yang tinggal sepertiga, menyesal. Sepertinya esok pagi akan kulewati dengan mata panda.

"Mbak Mia, apalagi yang kurang untuk besok? Mumpung mama mau ke supermarket hari ini. Cek lagi tas dan checklistnya. Roti udah? Teh kotak? Mentos? Sikat gigi? Kamu di rumah aja kan beres-beres?"

Pagiku hari ini diawali dengan kericuhan mama. Keluar kamar, rentetan pertanyaan memberondongku. Setengah sadar kujawab mamaku. Mengumpulkan nyawa, baru kujawab dengan rentetan jawaban dan request barang-barang yang kuperlukan. Meyakinkan mamaku aku akan di rumah, memastikan barang-barang bawaanku terkemas dengan baik. Memastikan bahwa dengan seluruh barang-barang yang dibawakan mama: koperku tidak overweight.

Pukul 02.10 am, mataku melirik ke sudut kamar. Berderet manis koper bagasi merah besarku, koper ungu kabin, tas jinjing cokelat warisan papa, ransel cokelat belelku yang masih setia, serta jaket tebal anti AC-ku. Seharian aku memberesi hal-hal tersebut, hingga akhirnya seluruh koper dan tas jinjing digembok dengan cantik. Besok aku dan barang-barangku akan melanglang buana, memulai hidup jauh dari keluarga. Satu yang belum kuberesi, kenangan.

Usai membereskan barang-barang tadi malam, tanganku usil membuka folder foto-foto di laptop, melihat perjalanan hidup. Teman, keluarga, orang tak dikenal. Berusaha mengingat-ingat momen dan perasaan saat foto-foto diambil. Hampir di seluruh foto, aku tersenyum atau tertawa. Kuingat lagi, benarkah saat itu aku tertawa? Padahal malamnya aku baru saja bertengkar dengan kakakku. Padahal malam sebelumnya baru saja ada orang yang tidak menepati janjinya. Padahal malam sebelumnya baru saja aku menangis semalaman.

Pukul 02.15 am.

Ah, orang datang dan pergi. Bahagia dan sedih silih berganti. Ada saat yang berat di hati, memaksa hati untuk menutup diri. Ada saat bahagia menghampiri, membuat senyum tersungging sepanjang hari. Seperti malam ini, aku tersenyum memandangi foto-foto itu. Foto-fotoku tersenyum, entah senyum dari hati, atau dengan luka di hati. 

"Jawaban dan kedamaian hanyalah untuk orang-orang yang mengerti. Mengerti bahwa Sang Maha Pembuat Rencana itu benar adanya. Kalau itu terlalu absurd untukmu dan kau ingin hatimu damai, cobalah mengerti bahwa memaafkan adalah obat terbaik. Memaafkan bukan siapa yang benar atau salah, bukan pantas atau tidak pantas, bukan rela atau tidak rela. Memaafkan adalah keputusan yang kaubuat dengan kesadaranmu, bukan dengan kerelaanmu. Kau sadar bahwa memaafkan adalah untuk kepentingan hatimu, bukan untuk orang lain. Suatu saat aku yakin kau akan mengerti, Mi.."

Aku termenung, memandang fotoku tertawa saat sedang outbond di Kaliurang. Aku ingat jelas, tawaku itu adalah jenis tawa menyamarkan luka. Teringat obrolan galauku dengan sahabatku, dalam hati mengakui bahwa sekali lagi sahabatku benar. Pada akhirnya aku dapat mengenang semuanya dengan tesenyum. Menertawakan kebodohanku, menertawakan kelabilanku, pun menertawakan kebahagiaan-kebahagiaanku. Aku siap melangkah esok pagi, bukan untuk meninggalkan kenangan, tetapi dengan mengemas rapi kenangan-kenangan. Mengemasnya di suatu tempat hingga akhirnya dengan tersenyum kubuka kembali.

Halo 2015

on Jumat, 23 Januari 2015
Halo penghujung hari ke-23 2015.

Sejak masuk kuliah, awal tahun biasanya saya 'rajin' untuk menuliskan resolusi aka target-target untuk tahun tersebut. Tugas membuat mindmap saat ospek sangat menginspirasi saya untuk menuliskan hal-hal semacam itu. Saya percaya bahwa menuliskan target akan membantu mewujudkannya. Saya masih percaya, hingga saat ini..

Tetapi, terkadang Allah juga menunda target-target tersebut. Namun lebih sering lagi, Allah memberikan hal-hal yang berada di luar target. Hanya 'mbatin', dan ternyata Allah mendengarkan. Membuat kita tersadar bahwa Allah-lah sang Maha Pembuat Rencana.

2015, saya tidak menuliskan banyak target seperti tahun-tahun sebelumnya. Hanya dua target yang tercanang: menuntut ilmu dengan baik di kesempatan yang telah Allah berikan; serta dilancarkan jalan untuk menggenapkan agama. Bismillah :)

Waktu

on Sabtu, 27 Desember 2014
Kelak kita akan tersadar: waktu adalah jawaban atas segalanya. Pada suatu saat, kita menilik ke belakang untuk menghubungkan berbagai titik. Titik saat kita ingin waktu dipercepat; titik ketika waktu serasa ingin kita hentikan sejenak. Namun, waktu pun terus berlalu. Kita berjalan; terus menemui berbagai manusia, berbagai panorama, melihat alam semesta. Terus berjalan, untuk menemukan sebuah jawaban.

Hingga akhirnya, waktu memberi jawaban atas segala pertanyaan. Kita akan pahami, mengapa jawaban tiba pada waktu itu; mengapa bukan lebih dulu? Karena sebaik-baiknya jawaban adalah jawaban yang tepat waktu, bukan jawaban yang terburu-buru.

Selamat menikmati waktumu! :)

destiny

on Minggu, 30 November 2014

See the sunrise

Know it's time for us to pack up all the past
And find what truly lasts
If everything has been written down, so why worry, we say
It's you and me with a little left of sanity
If life is ever changing, so why worry, we say
It's still you and I with silly smile as we wave goodbye
- Grow A Day Older (Dee)

Destiny, maybe that's what it called. Someday we'll found there are some little dots waiting to be connected. Catch up the right dot! Once we catch the right dot, still we have to put some efforts to make the line. But if it is destiny, if it has been written down, so why worry? No, I won't worry :) Good luck!


on Senin, 13 Oktober 2014
Hidup ini memang tentang "menunggu".
Menunggu kita menyadari: kapan kita akan berhenti menunggu
- Tere Liye.

Terkadang sesuatu begitu dekat, namun membuat tercekat. Semua tampak begitu sempurna, namun satu lubang mendasar menganga. Semua terlihat pasti, tapi masih harus menyadari kesiapan diri. Kesiapan untuk menyatukan visi, kesiapan untuk sedikit membelok dari mimpi. Ah, memang memerlukan instrospeksi dan kelegaan hati, sekali lagi.

Ikhlas

on Kamis, 02 Oktober 2014
Seringkali, terselip kata-kata 'ikhlas' di rangkaian ucapan kita. Enam huruf yang sangat mudah diucapkan. Enam huruf yang menjadi mutiara kalimat-kalimat indah. Enam huruf yang menjadi jimat sakti, jimat penguat ketika langkah menjadi berat.

Sejatinya, ikhlas itu bukan untuk diucapkan, bukan untuk dituliskan, seperti dalam tulisan ini :)

Ah, aku pun tersadar. Keikhlasan berarti adalah sesuatu tanpa kata ikhlas di dalamnya. Seperti kata orang bilang : " Tidak ada kata ikhlas di surat Al-Ikhlas". Namun ini adalah pengingat, apapun yang ada sekarang tidaklah tentu ada di masa yang akan datang. Bisa jadi, ikhlas mungkin merupakan anugerah yang terbesar dari Allah. Kembali berdoa, Allah menganugerahkan secuil lagi keikhlasan untuk hati hamba-hamba Nya..

Kebetulan

on Jumat, 19 September 2014
Sekali lagi mempercayai bahwa Allah bekerja dengan caranya yang luar biasa. Terlalu banyak hal-hal yang sedemikian cantiknya diatur sehingga terkesan 'kebetulan'. Kebetulan bukanlah kata yang tepat. Ada berbagai alasan dibalik seluruh tindakan dan karakter manusia. Alasan-alasan yang bermuara pada hari ini, membuat kita takjub dan mengatakan 'kok kebetulan?' Padahal, sudah sejak lama diri berproses untuk menyambut 'kebetulan' itu.

Selesai sudah menyadari 'kebetulan' tersebut, saatnya melangkah dan berproses untuk 'kebetulan-kebetulan' baik lainnya. Hingga akhirnya, seluruh rangkaian itu menjadi skenario Allah yang sangat indah dan menakjubkan :)

Bismillah..

Halo, hidup baru :)

on Sabtu, 13 September 2014
Halo :)

Dalam beberapa minggu terakhir, hal-hal yang terjadi begitu cepat. Saatnya beradaptasi lagi dengan hal-hal baru, dengan kehidupan baru. Hal pertama adalah: akhirnya saya jadi apoteker ^_^ Alhamdulilllaaah.. Titik terminasi dari kuliah di UGM selama 5 tahun, titik awal untuk melangkah ke mana saja. Mengulang kembali ingatan saya 5 tahun yang lalu, mengenai alasan saya memilih farmasi. Sejak kecil saya memang tertarik dengan dunia kesehatan (waktu SD saya seorang dokter kecil, hehe ;) ). Kenapa lalu tidak masuk kedokteran? Hmmm..Karena waktu SMA saya tidak suka pelajaran biologi dan lebih suka kimia. Kalau masuk kedokteran, pasti akan berurusan dengan biologi. Oleh karena itu saya memilih farmasi. Pilihan yang tidak pernah saya sesali, walaupun kehidupan ke depan saya akan selalu berurusan dengan biologi :p . Kelulusan menjadi apoteker membuat saya agak mellow beberapa minggu ini. Saatnya mengatakan "see you later" pada sahabat-sahabat. Ah, tapi kita akan selalu terhubung melalui doa, dears :')

"Pada akhirnya kita semua yang melafalkan sumpah apoteker disini, akan memilih jalan hidupnya masing-masing. Ada yang ingin mengabdikan dirinya di pusat-pusat pelayanan kesehatan (apotek, puskesmas, rumah sakit), bekerja di industri farmasi, menjadi akademisi, wirausahawan, atau mungkin menjadi ibu rumah tangga. Ada pula yang ingin bekerja di bidang yang tidak berkaitan langsung dengan farmasi. Saya yakin, seluruh pilihan tersebut adalah baik dan ilmu yang telah kita dapatkan di kampus farmasi tentu akan selalu bermanfaat digunakan di mana pun. Kita juga perlu menyadari bahwa apapun predikat kelulusan yang telah kita peroleh, yakinlah itu yang terbaik yang dapat kita capai. Tidak ada penyesalan, hanya perlu menata langkah ke depan. Langkah yang memastikan bahwa perjalanan menuntut ilmu ini merupakan masa berharga dalam hidup kita. Langkah yang memastikan bahwa kita menjadi bagian yang akan membuat tersenyum bangsa Indonesia. Langkah yang memastikan bahwa ilmu yang telah dituntut menjadi salah satu amal terbaik kita di dunia, Aamiin.."



Kedua, akhirnya saya 'ngekos' lagi, belajar mandiri lagi, dengan tempat yang lebih jauh dari sekedar Semarang :') Saya gag bisa pulang tiap minggu, hehe. Welcome to Nara, tepatnya di Ikoma-shi sih. Banyak yang bertanya: Nara itu di mana yon? Nara itu di dekat Kyoto dan Osaka. Jarang terdengar memang, suatu kota kecil yang damai. Ah, hidup disini tenang (atau sepi? hehe) sekali. Alhamdulillah, keluarga orang Indonesia di sini sangat kuat ikatannya dan banyak sekali membantu saya untuk beradaptasi :) Welcome new campus life! Pindah ke sini dan merasakan iklim akademik di sini, membuat saya makin sadar bahwa saya tidak tahu apa-apa >_< Oh ya, saya sedang menjalani program magang di Nara Institute of Science and Technology (NAIST), Graduate School yang memiliki kualitas riset dan pendidikan nomor 1 di Jepang berdasarkan MEXT pada tahun 2010 *sekalian promosi ;)*. Dan di sini, saya masuk ke Graduate School of Biological Sciences, bidang yang dulu tidak saya sukai, haha. Nah, pepatah mengatakan: jangan terlampau tidak suka dengan sesuatu, mungkin kau akan bersamanya selamanya. Terbukti nih pada saya :). Well, enjoy! Masuk ke dunia dengan iklim riset yang sangat kuat, baca paper adalah hobi, eksperimen adalah pekerjaan. What a life :p Saya masih kepontal-pontal haha >_< Alhamdulillah banyak orang-orang yang menguatkan, menanyakan kabar saya setiap hari untuk memastikan saya baik-baik saja. Sapaan dari mereka sangat menjadi penyemangat dan hiburan di sini :') *mellow lagi, haha..*



Ketiga, ah yang ketiga kapan-kapan saja :)

Sampai jumpa, dengan cinta dari Nara :*

Berjalan

on Sabtu, 02 Agustus 2014
Pada akhirnya, ikatan adalah penerimaan. Penerimaan masa lalu, masa kini, dan masa depan. Penerimaan bahwa dirimu dulu punya pacar lima, penerimaan bahwa diriku tidak suka makan di kaki lima -yang kata mamaku sangat jorok-, penerimaan bahwa bundamu ingin punya menantu yang bisa memasak setiap hari, penerimaan bahwa ayahku menginginkan menantu seorang PNS.

Penerimaan adalah keikhlasan. Sejauh apa kau bisa ikhlas mengetahui sisi-sisi tergelapku? Abaikan seluruh ucapan manusia di luar. Berhasil melihat diriku secara utuh, rapuh, mungkin mudah jenuh. 

Aku tahu, bukan perkara mudah menghadapiku. Mungkin saat ini kau masih sibuk, menyelesaikan masa lalu, menghadapi hari ini, menata masa depan. Tak apa. Aku pun begitu. Aku berjalan, dan yakin pada janji Tuhan mempertemukanku dengan manusia yang penuh keikhlasan itu.