Dilema Anak FSI?

on Kamis, 17 Februari 2011
Haha apaan deh judulnya yooon -_____-"

Oke curcol saya kali ini emang tentang dilema saya 'nantinya' kalo saya mungkin kerja di industri atau pengembangan obat *amin amin amin ya Allah..*. Sedikit flashback deh, jadi dulu sebenernya saya gag bercita-cita jadi farmasis. Kayak waktu TK mpe SMP, kalo ditanya cita-cita jawabannya : pengen jadi dokter kandungan. Ya taulah profesi apa sih yang populer di kalangan anak-anak, kalo gag dokter, guru, insinyur *abstrak banget gag sih?insinyur apaan dulu? -____-*, bahkan mpe astronot atau diplomat. Jarang banget kita denger anak TK : cita-citaku besok jadi apoteker. Tanya kenapa?

Keinginan untuk masuk jurusan farmasi baru muncul ketika semester 2 kelas 3, udah dagdigdug mendekati UM gitu. Pertamanya saya mau masuk teknik, teknik sipil atau arsitektur interior *padahal gag punya jiwa seni, pede banget*. Saya gag suka biologi, makanya mau masuk teknik yang lebih menantang pake rumus-rumus gitu *alibi, padahal karena saya gag bisa ngapalin haha*. Nah kenapa tau-tau kesambet jadi mau masuk farmasis? Karena denger banyak orang yang bilang : di farmasi tu lapangan kerjanya gede lho, kalo kamu gag mau jadi apoteker, nanti bisa kerja di industri-industri gitu. Waaaaaw :O *pikirannya : gampang dapet kerja dan duit, matre banget sih saya :(*. Dan saya pun membulatkan tekad untuk masuk farmasi, dan saya dulu gag tertarik sama sekali kerja di apotek, bayangan saya ketika masuk farmasi, saya nanti akan kerja di industri atau BPOM gitu, jadi memang dari awal orientasinya untuk masuk FSI :)

Alhamdulillah, saya sekarang sudah berada di minat saya, FSI :)

Hmmm, selama ini entah mengapa ada stigma bahwa FSI itu money oriented *atau mapan oriented?*  dan FKK itu social oriented *FBA? entrepreneurship oriented, halah opo kuwi :p*. Saya gag menggeneralisir ya, ini pendapat pribadi saya, kadang ada yang menganggap begitu kan? Awalnya saya juga begitu. Tapi begitu menapaki kehidupan di farmasi *bosomu -____-"*, saya pengen kalo pun nanti saya kerja di industri, saya tetap bisa beramal lewat jalur itu, tetap bisa social oriented juga. Kata teman saya : berbuat baik untuk sesama tu gag cuma lewat satu jalur  yang paling umum kok, bisa pake berbagai jalur, asal memang diniatkan *teman saya itu sekarang di FBA, kami diskusi masalah ini ketika kuliah tamu hehe*. Maksudnya, kalo FKK emang keliatan banget kan kerja sosialnya, di mana mereka lah yang berhubungan langsung dengan masyarakat, memberikan konseling, memberikan penyuluhan, dll. FSI juga nanti pasti bisa seperti itu, tapi untuk sementara kami kan harus berkutat dulu dengan laboratorium, berbagai sintesis dan hal-hal molekuler. Dan menurut saya dan teman saya, kami tidak harus langsung terjun ke masyarakat seperti memberikan konseling, bisa saja kan nanti saya mengembangkan formulasi obat yang poten tapi terjangkau oleh masyarakat dan teman saya yang FBA itu mengembangkan herbal Indonesia sehingga bisa menjadi obat yang poten juga. Dengan begitu kami pun bisa memanfaatkan ilmu kami untuk masyarakat, mencari materi tapi juga  memberikan manfaat bagi masyarakat. Walaupun awalnya ini memang menjadi pembenaran diri kami untuk masuk minat masing-masing, tapi insya Allah kami bisa menjalankannya, Amin ya robbal 'alamin.. :)

Nah, tiba-tiba kemarin waktu kuliah farkin, pak dosen membahas sesuatu yang selama ini kayaknya gag ada ujungnya buat dunia obat : obat generik atau merk? Kayaknya masalah ini dah dibahas ama banyak orang, dari jaman kapan, gag selese-selese juga :p. Kadang ada anggapan : anak FKK pasti milih generik *berpihak pada masyarakat*, FSI milih merk *berpihak pada industri, dimana keuntungannya gede*. Tu kan imagenya FSI jadi money oriented lagi -_______-". Dulu waktu semester 2, saya pernah denger kakak tingkat saya berdebat, yang satu anak FSI yang satu anak FKK.

FKK : Masyarakat tu butuh obat yang terjangkau, gag liat sekarang harga obat merk berapaan? Emang dipikir Indonesia tu negara dah maju yang penduduknya bisa beli obat mahal-mahal? Yang sakit juga kebanyakan orang gag punya. Pokoknya obat generik lebih oke! Toh bahan aktifnya sama.

FSI : Obat generik lebih oke? dari segi harga iya, jelas jauh lebih murah, lebih mudah dijangkau. Tapi liat dong efektivitasnya. Ada harga ada mutu. Bahan aktif emang sama. Obat merk mahal karena pake bahan-bahan yang berkualitas, mesin yang dipake juga lebih canggih. Otomatis mutu obat yang dihasilkan lebih bagus. Mau murah tapi sembuhnya lama apa mahal tapi sembuh cepet?

Saya cuma melongo, berpikir : oke semua ada kurang lebihnya.Tapi emang gag bisa bikin obat bagus dengan harga yang menengah?hm..


Kembali ke pak dosen. Beliau ngasi contoh sebuah antibiotik *saya lupa namanya apa*, dengan nama generik harganya 80.000an dan dengan nama merk 484.000 *untuk 10 tablet*. Wow! 6x lipat meeeeeen harganya! Dan beliau kemudian menerangkan, bioavailabilitas si obat merk lebih bagus sehingga lebih efektif, pemakaiannya juga lebih efisien, obat yang diminum per hari lebih dikit. Semua itu karena si obat pake eksipien yang lebih bagus mutunya. Walaupun zat aktifnya sama, tapi eksipienlah yang akan menentukan bioavailabilitas obat itu dalam tubuh, sehingga efeknya akan berbeda antara obat generik dan obat merk. Gituu :O

Saya mah mantuk-mantuk aja dengerin itu, berusaha berpikir bahwa harga 6x lipat itu wajar untuk efektivitas yang didapat. Yang bikin cengok adalah ketika pak dosen bilang : 'Makanya kalian tu fokus aja gimana caranya ngembangin obat biar lebih efektif. Pakailah bahan-bahan yang emang bermutu untuk menunjang itu. Mahal? itu sih urusan orang ekonomi *atau manager ya? gag terlalu denger sih*. Yang penting bikin obat bagus, masalah mahal apa egag bukan urusan lah, bukan kita yang ngatur. Sekarang obat mahal yang salah siapa? Pemerintah. Kenapa gag bisa ngasih subsidi buat obat? Kunci pelayanan kesehatan yang terjangkau ada di subsidi dan asuransi'.

Kurang lebih gitu kata si bapak. Kalo ada yang baca dan saya salah, tolong dibenerin ya :)

Saya langsung berpandangan ama temen sebelah saya. Gapapa obat mahal? Yang tanggung jawab harusnya pemerintah?

Ya menurut saya sih, gag bisa juga semua dikasih ke pemerintah. Mau berapa subsidi yang dikasih pemerintah buat obat? Masih banyak juga kan yang harus dikasi subsidi, pendidikan, bbm, blablabla. Maksudnya, emang si industri gag bisa apa ngerti dikit aja, buatlah obat yang bagus, bermutu, efektif, tapi juga sambil mikirin nanti harganya jatuhnya berapa. Buat apa ngembangin obat bagus-bagus tapi cuma bisa membantu kesembuhan segelintir orang doank? Saya bingung deh. Pernah juga denger crita kakak tingkat, dunia industri tidak seindah yang kita kira *halah*. Mungkin maksudnya penuh dengan intrik dan permainan uang. Haha berat ni :p

Mungkin waktu masih jadi mahasiswa, emang idealisme itu bakal masih menggebu-gebu ya. Kata pembenaran saya dan teman saya : berbuat baik untuk sesama tu gag cuma lewat satu jalur  yang paling umum kok, bisa pake berbagai jalur, asal memang diniatkan. Semoga ini bisa menjadi idealisme dan motivasi kami juga dalam kerja nanti, amin amin!

Tidak bisakah peneliti, industri, dan pemerintah saling mengerti dan bekerja sama untuk tidak membuat orang sakit lebih 'sakit'? :)

p.s. : saya tau ini cuma wacana belaka, gag ada habisnya kayaknya dibahas. Tapi semoga wacana ini akan terus menjadi pengingat bagi saya dan teman-teman yang lain, amin :)

Sugesti Diri Edisi Semester 4!

on Rabu, 16 Februari 2011
Hari ketiga di semester 4.
materi baru.
dosen baru.
kelas baru.
teman-teman baru, yang membuat saya menyadari, ke mana aja saya di farmasi? temen seangkatan kok gag kenal, astaga yooooon -_____-"
kegiatan baru.
dan yang penting :

S E M A N G A T B A R U ! ! !
:)

yap!
semoga setiap hari akan mendapatkan semangat baru untuk melakukan hal-hal yang bermanfaat, amin :D
saya sukasukasuka sintesis organik, kimia produk alam, teknologi formulasi sediaan padat, farmakokinetika, radiofarmasi, bioanalisis, analisis farmasi, analisis klinik/farmasi forensik, dan 5 praktikum yang akan menemani saya semester ini! <3

saya suka kegiatan-kegiatan dan amanah yang saya dapat di semester ini! <3

#sugestidirisendiri

bismillahirrahmanirrahim..

The Devil and Miss Prym *Paulo Coelho*

on Selasa, 15 Februari 2011

Semuanya hanya masalah pengendalian diri. Dan pilihan. Tidak kurang, tidak lebih.

Awalnya nama Pak Paulo Coelho ini terdengar asing di telinga saya, saya bukan novel freak sih walaupun lumayan suka baca :p. Karyanya yang paling terkenal sebenernya The Alchemist, dan saya malah belum baca buku itu, zzz -______-". Adek saya bilang, saya berubah. Dulu saya sukanya novel menye-menye mengharu biru kayak si Cecilia Ahern, atau chicklit yang ceritanya seputar wanita muda menjelang paruh baya yang kerja mapan, shoppaholic, tapi susah cari jodoh, atau novel-novel ringan yang bahasanya mudah dimenegerti *ini emang saya yang males mikir berat ya?haha*. Dan tiba-tiba sekarang saya baca novel yang keliatan rada ber-sastra *halah*.

Oke cukup deh curcolnya :p

Paulo Coelho percaya bahwa 1 minggu dalam kehidupan manusia sudah cukup untuk menciptakan perubahan yang besar dalam hidup manusia. Seorang asing datang ke Visco, desa terpencil yang bagi orang kota bagaikan surga dengan segala kedamaian yang ditawarkannya. Tapi bagi penduduk Visco sendiri, tempat tersebut seakan mengekang mereka dan memaksa mereka hidup dalam rutinitas yang hambar, tanpa ada kejutan-kejutan dan mereka dapat memprediksi bagaimana mereka menjalani hidup pada esok hari. Orang asing tersebut menawarkan emas yang dapat mengubah desa tersebut, menjadikannya lebih berwarna. Namun dengan syarat, harus ada satu orang penduduk desa yang meninggal dalam seminggu itu, entah karena sakit, diserang hewan buas, atau bahkan dibunuh oleh warga yang lain. Tokoh utama di novel ini adalah Chantal, satu-satunya gadis muda yang tinggal di desa itu. Chantal menjadi 'alat' orang asing untuk menyampaikan tujuannya datang ke Visco kepada penduduk desa yang lain, dan berarti Chantal harus mengumumkan tawaran orang asing tersebut. Perang batin pun terjadi, pada diri Chantal dan penduduk desa yang lain. Haruskah mereka 'mengorbankan' salah satu penduduk demi kehidupan yang lebih berwarna dan menggairahkan? Siapa yang menang, malaikat atau iblis yang ada di setiap hati manusia?

Hmmm, novel yang tidak membosankan. Banyak kalimat-kalimat dan sedikit kutipan cerita yang menyentil saya *halah bosomu yon XD*. Di novel ini, Coelho menunjukkan bahwa dalam setiap hati manusia selalu ada malaikat dan iblis yang 'berperang' untuk mengendalikan ke mana tuannya melangkah. Baik dan Jahat selalu mengiringi manusia, kadang Baik dominan pada siang hari, Jahat dominan pada malam hari. Atau sebaliknya. Atau Baik dominan pada suatu periode yang panjang, dan Jahat dominan pada periode yang pendek. Atau sebaliknya. Semua tergantung pada : pengendalian diri

ketika sama sekali tak disangka-sangka, kehidupan justru menyodorkan kepada kita tantangan untuk menguji keberanian dan kemauan kita untuk berubah; jika saat seperti itu tiba, tak ada gunanya berpura-pura sesuatu tidak terjadi atau mengatakan kita belum siap.

Jodoh di Tangan Siapa? *another mario teguh's motivation* :)

on Minggu, 13 Februari 2011
Ouch ouch, temanya unyu banget, itu pikiran saya ketika pertengahan minggu ini melihat judul si om mario buat minggu malam ini. Jodoh di Tangan Siapa? Mulai dari ABG umur 14 taun, remaja 17 taun, ababil umur 19 taun *ehem, saya*, orang dewasa muda umur 20 taunan, ibu rumah tangga umur 30 taunan, bahkan mpe nenek-nenek ada mungkin masih aja pada mempertanyakan itu?*iya gag sih?* Mulai dari yang masih labil *kayak saya*, yang mulai galau gara-gara frustasi nyariin si jodoh, yang udah nikah dan masih bertanya 'am I right?', mpe yang mungkin berpisah dan mencari lagi dari awal, pertanyaannya masih sama 'Jodoh di Tangan Siapa?'. Rawr banget sih yang nyiptain pertanyaan ini -______-"

Sebenernya saya lagi males sih beranting-ranting *bukan saya bukan munafik nih, suerr XD*. Tapi apa salahnya kan saya menyimak si om mario lagi malem ini dan membuat sedikit catetan tentang petuah beliau. Itung-itung besok kalo si ranting lagi jalan-jalan dan nemuin saya, saya bisa baca lagi catetan ini untuk memastikan he's the one, yeah!*mulai random*

Oke, acara dimulai dengan 5 pertanyaan om mario ke penonton :
1. Jodoh di tangan siapa? --> acakadut jawabannya, ada yang bilang di tangan diri sendiri, di tangan Tuhan, ada yang ikut-ikut aja nggumam geje :p
2. Nasib di tangan siapa? --> mulai kompak : di tangan diri sendiri
3. Kebahagiaan di tangan siapa? --> tambah kompak : di tangan diri sendiri
4. Kedamaian di tangan siapa? --> tambah tambah kompak : di tangan diri sendiri
5. Jodoh di tangan siapa? --> dan akhirnya semua kompak : di tangan diri sendiri!

yeah,
Jodoh diserahkan ke tangan kita sendiri, dan Tuhan yang akan menyetujui :)
Jadi pertanyaan terhadap si judul dah kejawab ya, inget : Jodoh di tangan kita sendiri, tapi jangan lupa minta persetujuan dulu dari Tuhan *dari keluarga juga*

Hmm, semua orang punya nasib, seluruh hidup adalah perjalanan nasib. Nasib baik, nasib buruk, nasib beruntung, nasib sial, semua tergantung dari cara kita memandangnya, Karena semuanya punya nasib, terus apa dong yang mbedain? Kelas nasib. Kelas nasib itulah yang membedakan orang pandai dan tidak pandai, orang beruntung dan tidak beruntung, dan lain-lain. Dan kelas nasib itulah yang harus kita bangun dengan tangan kita sendiri. Percayalah bahwa orang baik akan berpasangan dengan orang baik, orang keji akan berpasangan dengan orang keji. Impas kan? :p. Allah memang Maha Adil :). Tergantung bagaimana kita memandangnya dan mengimplementasikannya menjadi hal yang positif di mata kita ;D

Begitu dibuka sesi pertanyaan, ada satu pertanyaan yang unyu deh, bapak-bapak yang tanya. Dia bilang 'jodoh saya telat karena saya terlalu logis, padahal kata ustadz jodoh itu gag logis, harus pake hati, gimana dong?'. Gini deh misalnya saya : saya pengen jodoh yang pinter, kaya, baik hati, sabar, gag mutungan, lucu, pengertian, blablablabla *gag gag seheboh itu, saya cuma mau rasa 'klik', gag lebih gag kurang, itu yang susah haha*. Ya misalnya saya heboh deh minta yang kayak saya sebutin tadi, logis kan seorang wanita muda seperti saya minta itu?*wanita muda?bosomu yooon -_____-*. Yap logis dong, tapi apa yang saya sebutin tadi itu semua gag logis sifatnya, semua emosional, sifat-sifat kayak gitu gag bisa dikuantifikasi kayak kalo kita pake komputer yang eksak 'eh aku mau dong jodoh yang pinternya 90%, baiknya 99%, pengertian 80%, blablabla'. Semua gag logis, semua relatif, karena Allah Maha Adil :)

Cinta itu buta. Sebagai orang yang cukup 'eksak' sih rasanya, buat saya itu gombal banget dan tidak bisa dipertanggungjawabkan. Ternyata si om Mario setuju loh dengan saya *huahahaha*. Yeah, cinta emang gag buta, tapi melumpuhkan logika :). Yang ini baru saya setuju hehe. Itu sebabnya kenapa nasihat pernikahan lebih dibutuhkan ketika sudah menikah, karena orang yang 'ngebet' nikah itu gag bisa dinasihati, logikanya lumpuh oleh cinta *menye-menye banget nih kedengerannya,haha*. Berhubung saya belum ngebet jadi belum tau rasanya, tapi kayaknya emang iya, oh no logika saya akan lumpuh -_____-". Pesan si om mario : Pastikan belajar semua kebaikan tentang pernikahan sebelum kamu jatuh cinta, karena saat itu kamu masih logis' *jujur saya bingung, saya harus bahagia karena masih logis, atau bahagia nanti kalo gag logis? eh saya harus bahagia sepanjang hidup saya, amin :)*

Dan ketika kita sudah merasa menemukan si ranting itu, gimana cara ngeyakinin diri kita? Kewenangannya ada di tangan kita kan? gimana kalo kita salah mengambil kewenangan? :(
Kita memang diberikan keleluasaan buat memilih, buat menentukan, dan Tuhan yang akan menyetujui. Tapi jangan sampai kita sewenang-wenang dalam memanfaatkan kebebasan memilih itu, mendekatlah pada Tuhan dan bertanyalah apakah Tuhan menyetujui pilihan kita :)
*ini nasihat yang kayaknya bakal penting banget buat masa depan saya :)*

Sooooo, kesimpulannya ada 2 hukum nih :
1. Upaya diberikan kepada kita
2. Kita harus memantaskan jiwa bagi jodoh yang berkualitas

Jangan fokus pada di mana jodoh saya, tapi fokuslah pada upaya memantaskan diri untuk dipertemukan dengan jodoh yang pantas :)

Sooooo, karena saya males beranting-ranting sekarang, saya anggap saya dalam usaha 'memantaskan diri' tersebut, amin amin :)

'heh ranting kamu dah lahir kan? aku tau loh, kamu cuma lagi jalan-jalan aja sekarang nyariin aku, kupantaskan diriku, pantaskanlah dirimu, dan kita akan bertemu di persimpangan jalan yang tepat :)'
--> haha random banget deh saya -_______-"

p.s. : kata om mario juga nih, jangan berharap dapet jodoh yang udah 'jadi', karena yang 'jadi' pasti dah dimiliki orang, soo, 'ranting, mari membangun :D' *ini ucapan kalo saya ketemu si ranting ya*
p.s. : buat sahabat saya moymoy, ayok menggirang bersama neng, mereka lagi jalan-jalan nyariin kita loh :). Just see what will happen 5 years ago, amiiin ;D
on Jumat, 11 Februari 2011
tidak ada niatan untuk meninggalkan sesuatu yang saya anggap indah ini

saya bersyukur saya dapat apa yang saya dapat, tidak lebih tidak kurang

utami maryam siti aisyah, istri pepeng
wanita super di belakang pria hebat :)