Melangkah Lagi - Gita Gutawa

on Jumat, 10 Februari 2012
Pagi ini, kau awali harimu
Dengan kesedihan yang begitu dalam
Biar ku usap air matamu
Ku kan ada di sini, selalu bersamamu
Angkatlah wajahmu, tebarkan senyummu
Terus melangkah, jangan menyerah
Melangkah lagi, jangan berhenti
Kau kan mengerti
Makna terbaik dari semua yang tlah terjadi
Terus melangkah, jangan menyerah
Melangkah lagi, jengan berhenti
Kau kan sadari
Rahasia indah yang tersimpan di hari nanti
Teruslah melangkah, jangan menyerah
Dan biarlah semua yang tlah berlalu
Jangan kau sesali, sambutlah hari baru
Tegakkan wajahmu, tumbuhkan asamu
Teruslah melangkah, jangan menyerah




selamat melangkah lagi, saudariku Rina Wahyuningsih
Dunia menanti dirimu, berharap cemas kau melanjutkan langkahmu, membawa dunia bagi orang lain
Ibu menatapmu, menanti putri kecilnya membahagiakan dunianya disana..
Siap melangkah lagi? I dare you ;)

Deutsch Lernen!

on Rabu, 08 Februari 2012
Tengah bulan januari kemaren, saya melihat sebuah iklan unyu. Lupa liatnya dimana, keknya di fb. Guess what? Les bahasa jerman gratisan $.$ Langsung dah saya catet di buku merah saya, 8Februari jam 14.00 --> les bahasa jerman gratis. Hihi. Saya beneran lupa, sampe akhirnya tadi buka buku merah lagi, tingtong. Langsung deh capcus ke Pusman (Pusat Studi Jerman), tempatnya di baratnya maskam UGM. Bangunan tua yang asri.

Dalam hati 'ah jam2 mpe sana paling masih sepi'. Beberapa meter dari tempatnya, feeling saya kok gag enak, kerumunan orang lumayan banyak. Dan ternyata jam 2, yang harusnya baru dibuka pendaftarannya, udah hampir habis kursi yang tersedia. Saya galau dah negative thinking aja gag bakal dapet. Tetep ngantri, fiiiuh. Nomer 42 dari 47 kursi yang tersedia. Jiwa mahasiswa benar-benar terlihat disini. Dimana ada gratisan, disitu banyak anak muda. Ada gula ada semut, hehe. Eh iya terus ketemu si iyul temen SMA, kasian dia tadi akhirnya masuk waiting list nomer 5. Entah bagaimana nasibnya akhirnya karena saya dah keburu masuk kelas :'( *lebay, maaf ya yul hhe ^^v*

Alhamdulillah, walaupun judulnya gratis, ternyata dapet fasilitas dikasih map yang ada stikernya pusat studi jerman, ada modul juga. Intinya pengenalan bahasa jerman sih, yang udah saya dapet di SMA juga ^^v. Udah agak lupa juga ^^v. Yasudlah, dinikmati saja tadi :).

Gutten abend. Ich bin Yonika. Ich komme aus Jogja. Ich wohne in Jalan Godean. Ich bin zwenzig. Wie alt bist du? Danke, tschuss.

^^
itulah yang kami pelajari selama 1,5 jam :)
Pak Marzuki, tentornya, bilang mustahil kami bisa ngomong casciscus setelah diajar beliau 1,5 jam. Ya iyalaaah XD. Haha, yang penting kenalan lagi deh dengan bahasa jerman. Setelah sekian lama dah teronggok entah kemana. Walaupun obsesi ke jerman tetap ada ^^v. Malah crita-crita tentang kehidupan disana yang lumayan banyak :)

Oia, tadi ada native juga dari sono. Namanya Phillips. Ganteng  :(. Semakin meyakinkan saya bahwa ras arya memang tercipta untuk mengindahkan bumi ini. Well, kita skip saja bagian ini haha.

Tadi ada sesi tanya jawab gitu sama si Phillip. Ada pertanyaan yang paling saya inget : gimana kehidupan beragama disana? Yawda diceritainlah, mayoritas katolik (30%), protestan (20%), dan islam juga sedang berkembang disana karena banyak imigran turki yang masuk ke jerman. Teman-temennya ozil tuh ya :). Dan kata si Phillip sih, walau negara sekuler. Disana tetep ada pelajarn agama sesuai agama yang dianut. 2 jam per minggu.

Begitu si Phillip keluar kelas, pak Marzuki yang pernah tinggal di Berlin cerita, walau keliatannya persentase umat beragama disana tinggi dengan agama yang berbeda-beda, yang paling tinggi justru orang yang atheis. Mencapai 25% dari total orang jerman adalah seorang atheis. Hmm, jadi inget sama penjelasan hanum di 99 cahaya di langit eropa. Orang eropa zaman sekarang banyak yang terlahir atau memilih menjadi atheis, karena trauma di masa lalu dengan kekerasan dalam agamanya. FYI, saat ini gereja di jerman memungut pajak dari jemaatnya, langsung dipotong dari gajinya. Entah ini berhubungan dengan fenomena atheis tadi atau tidak, mungkin akan lebih banyak sumber sahih yang kita dapat nanti. Kapan-kapan deh nyari hehe. I don't plan on racism :)

Wait for me, germany! \(^.^)/

Meraba Indonesia

on Selasa, 07 Februari 2012

Dilihat dari sampulnya sekilas, buku ini kayak buku-buku perjuangan. Kesannya heroik. Dengan gambar motor di depannya, seolah ingin mengatakan bahwa motor menjadi bagian penting dari buku ini. Memang, Ahmad Yunus, sang penulis, telah 'meraba' sebagian besar Indonesia menggunakan motor itu.

Ahmad Yunus adalah seorang jurnalis. Bersama Farid Gaban, seniornya, ia 'meraba' Indonesia selama setahun melalui ekspedisi Zamrud Khatulistiwa. Membaca buku ini seperti makan sambal, kata Andy F. Noya. Pedas, tapi membuat ketagihan. Pedas ketika mengetahui apa sih yang saya tahu tentang Indonesia? Sebagai anak yang seumur hidup tinggal di Jogja, sebuah kota yang besar di tanah Jawa, pengetahuan saya tentang ke-Indonesia-an yang lain terbatas hanya pada pelajaran geografi zaman SD dulu. Bahwa provinsi di Indonesia ada 33. Bahwa Indonesia tersebar dari Sabang hingga Merauke, dari Miangas sampai Pulau Rote *bahkan ini saya tau dari jingle sebuah makanan instan ^^v*. Tanah kelahiran orangtua saya pun di Kalimantan sana, saya sangat sedikit mengetahuinya. Pedas yang pertama, saya tidak tahu apa-apa *atau belum lebih tepatnya?* tentang negara saya selama 20 tahun ini.

Kehidupan rakyat 'biasa' di seantero Indonesia diobservasi oleh Yunus hingga menjadi pelajaran 'luar biasa' bagi kita. Tentang bajak laut berseragam *bisa tebak siapa?* yang membajak daerah perairan Malaka, memaksa petani-petani untuk membayar atas setiap sayur yang dibawa mereka melalui daerah tersebut. Ya, itu polisi perairan RI. Tentang perkebunan sawit yang saya kira sebelumnya merupakan salah satu sumber devisa yang cukup besar, ternyata efek merusak lingkungannya jauh sangat lebih besar sekali. Tentang kota-kota yang memiliki peran besar saat awal pendirian negara ini, tetapi sekarang gaungnya telah kalah dibandingkan dengan kota metropolitan, bahkan sulit ditemukan nostalgi yang terawat di kota tersebut, misalnya Bukittinggi yang telah melahirkan pemikir bangsa seperti Tan Malaka, Sutan Sjahrir, dan tentu saja Mohammad Hatta.

Masalah transportasi darat dan air adalah masalah klasik di Kalimantan, begitu juga dengan kebakaran hutannya. Masalah air ini sering sekali saya rasakan ketika mudik. Bagaimana bisa pulau yang disebut dengan pulau seribu sungai bisa kesulitan air untuk warganya? Bagaimana pengelolaan sumber daya air sebenarnya? Untuk mandi, minum, kadang orang disana harus membeli air yang dijual keliling. Padahal, mayoritas rumah penduduk kalimantan berada di atas perairan. Ya, perairan yang tidak dijaga kebersihannya sih. Pedas.

Saya paling pedas ketika  Yunus menemui saudara-saudara kita di perbatasan, baik yang di pulau Sumatera, Kalimantan, Miangas, maupun Irian Jaya. Kontradiksi terjadi, papan bertuliskan "Bahasa Indonesia adalah Bahasa Persatuan","Indonesia Tanah Airku","Aku Cinta Indonesia" yang berwarna merah putih, dipasang di perbatasan, bersanding dengan kenyataan bahwa mereka menggunakan ringgit dalam kehidupan sehari-hari, bahwa mereka membeli kebutuhan hidupnya justru di negeri sebelah karena lebih murah. Tetapi toh, mereka mengaku tetaplah bangga dan memilih menjadi Indonesia. Pedas sekali.

Indahnya Indonesia juga terangkum di sini. Berbagai foto yang menunjukkan eksotisme Indonesia, baik darat maupun lautan, terpampang pula di buku ini. Membuat yang membacanya ingin 'meraba' Indonesia lebih dekat. Semoga suatu saat bisa melihat lebih dekat berbagai bagian Indonesia, gag cuma buat 'liburan' ^^v

Mencintai tanah air Indonesia dapat ditumbuhkan dengan mencintai rakyatnya. Perjalanan ini adalah upaya saya untuk bisa mengenal manusia Indonesia lebih rekat, lebih dekat
- Ahmad Yunus 


Quality Education = Commodity?

on Sabtu, 04 Februari 2012
Saya paling tidak respek dengan pameran pendidikan. Kalau pameran beasiswa,bolehlah. Tetapi, kalau namanya pameran di mana sekolah-sekolah swasta berlomba mendapatkan siswa, that’s absolutely absurd. Aneh. Pendidikan sudah seperti sayur dan daging di pasar. Sekolah sudah seperti pedagang yang mengiklankan produk yang dijualnya. Apa yang mereka jual? They say, quality education."
- Bayu Adi Persada, Pengajar Muda di Halmahera Selatan

Sound familiar, right? Quality education. Bagaimana seharusnya memaknai 'quality' itu? Ada yang mau sharing? :)

Saya mau curhat nih ceritanya, haha. Tentang 'barang dagangan' bernama pendidikan itu. Jadi, beberapa waktu yang lalu saya mengunjungi sebuah pameran pendidikan yang diadakan di Hotel Santika. Kebanyakan yang mengisi stand adalah universitas dari Aussie. Berhubung lagi UAS, jadilah anak-anak pada susah diajak buat ikutan *piss ^^v*. Saya ngacir sendirian ke sana demi ikutan tes ielts gratis. Haha, biasalah, yang gratis-gratis saya suka ;)

Sampe sana, situasi sedang-sedang saja. Terlihat antrian di semua stand, menanti giliran untuk 'konsultasi'. Sambil nungguin tes ielts, saya masuklah ke ruang pameran. Muter 1x, kok penuh semua? Males ngantri sebenernya. Tapi yasudahlah, masak ke sini gag dapet info apa-apa? Akhirnya saya menunggu di satu stand, sayangnya lupa nama universitasnya apa :(. Alasan milih stand itu karena di banner dicantumkan jurusan biotechnology, yang cukup berhubungan dengan dunia farmasi. Yasudahlah, mengantri di stand itu..

Tiba giliran saya, sengaja milih yang bule aja biar latian bahasa inggris, haha sok-sokan :p. Duduk, eh si bule masih ribet ngomong apa gitu sama LO-nya yang orang Indonesia. Di belakang saya, ada sekeluarga yang dari percakapan mereka, anaknya kelas 3 sma dan lagi cari sekolah. Akhirnya si bule pun bertanya pada saya, undergraduate atau postgraduate. Saya mencari yang untuk postgraduate. Pengennya sih bisa ngobrol sama si bule, prospeknya gimana gitu, yang penting : ada beasiswa gag. Tapi si bule ngeliat di belakang saya, satu keluarga itu heboh liat-liat jurusan. Akhirnya dia bilang : "you can find information in this book. I'll talk to them for a 'lil time." Maksudnya dia mau ngomong bentar ke keluarga di belakang saya.

Yaya, akhirnya saya buka itu buku. And I I only find a few of  biotechnology section -____-". Intinya bahas harga-harga. Rawr. Sementara si bule justru berbusa-busa ngomong ke keluarga di belakang saya : " anak kamu nilai minimal 8 kalo mau masuk sini, ielts minimal 6,5,sekarang nemnya berapa?" dengan bersemangat si bule nanya-nanyain keluarga itu. Saya dan mbak-mbak di sebelah saya yang daritadi duduk mantuk-mantuk wae, sabar menanti si bule 'melayani' kami. Cukup lama kami menanti percakapan antara keluarga *yang dari penilaian sepintas lalu adalah orang berada yang gag mikir ongkos nyekolahin anak keluar negeri* :)

Hingga akhirnya, si keluarga ngomong sama LO karena agak kesulitan ngobrol pake bahasa Inggris ama si bule. Fiuh, finally, my turn. Dan setelah menunggu begitu lama, ternyata kesempatan saya cuma 'sebentar'. Saya tanya, ada beasiswa gag di univ itu, kalo biotechnology kayak mana programnya.

"Nope, there aren't scholarship from us. No at all. Do you have any pen? I'll write the website of Aussie Education Ministry."

Dan itulah yang saya dapat. Informasi tentang web kementrian pendidikan Aussie :)

Oke, itu informasi berharga loh ;). Saya dah hampir lupa dengan peristiwa ini, haha :D. Tapi membaca kutipan di awal postingan saya tadi, jadi mikir. Is quality education a commodity? Kayak jualan di pasar. Kamu punya duit, kamu dilayani. Kamu gag punya, hubungi pemerintah buat minta tolong.

Hehe, gag seapatis itu sih. Saya tahu banyak sekali orang-orang di sekeliling saya yang hebat-hebat. Yang membuktikan bahwa quality education adalah komoditas yang tidak hanya diraih dengan uang :)

#Catatan akhir semester - 5

on Jumat, 03 Februari 2012
HOLIDAY IS COMING!

Wait, what's the meaning of holiday? .__. hahaha, jadi inget tadi ada temen sms

+"lagi dimana yon?"
- "otw ke tawangmangu"
+ "jalan-jalan? ah gag mungkin, mesti kerjaan"
- "jalan-jalan kok, ke BPTO"
+ " tuh kan, mesti gawean golek bahan nggo pkm"
- "hooh sih"
+ " dasar anak yang gag punya hari sabtu-minggu"
- "haha, sinisme ki .__."
+ "yo rapopo sih, aku juga. syukurilah. ketika ada hari libur, kita akan lebih bersyukur kan?"
- ":)"

Seuprit percakapan tadi membuka ingatan saya, ngapain aja saya semester 5 ini? UAS telah berlalu, yeiy! :D Tapi emang hidup anak kuliah cuma berenti di UAS aja, njuk udah gitu? gag ada beban lagi? haha :D I wish :)

Jaman masih muda dulu *emang sekarang umur berapa deh yaaa :p*, maksudnya ketika awal masuk kuliah gitu, UAS is so wow banget. Mantengin portal akademik is a must after UAS. Liburan adalah berarti dengan sangat leluasa memendam diri di rumah sampe lumutan ataupun hilang dari 'kegiatan' kampus. Ketika UAS berakhir, semester pun berakhir. Beban terhadap semester itu pun berakhir.

Kayak postingan-postingan galau bin nyampah bin menuh-menuhin blog saya di semester 5 ini, saya ngerasa semester-semester ini 'berbeda' dengan yang sebelumnya. Ketika tanya ama temen-temen, ketika nge-galau, pasti pada bilang semester 5 is so wow. Dari segi beban akademik, kegiatan, tanggung jawab, blablabla. Menguras hati, pikiran, tenaga. Ini lebay banget ya haha. Keliatan banget njeglegnya. Begitu banyak hal yang saya 'abaikan' dan 'telantarkan' beberapa waktu yang lalu. Tapi dari situ belajar, bahwa saya ternyata belum menyerap sepenuhnya manajemen prioritas yang entah sudah berapa kali saya ikuti di beberapa training. Astaghfirullah :(

Di semester ini juga saya dapet 'guratan' baru di 'marmer' saya. It's not a big hurt. Smaller than before, cause I have things to do, to repair it :). To being a better person. Cause now I believe more that kind people is for kind people :). *hihihi agak galau dikit :D*

Berbagai hal yang terjadi bikin saya lebih sering mengeluh di awal semester. Sering ngerasa cape sendiri. Sering sensi. Sering jadi orang yang menyebalkan :(. Tapi kemudian ada seorang kawan mengatakan

"toh semakin dewasa, kita tidak bisa berharap beban tanggung jawab kita akan berkurang. Semua justru akan makin bertambah seiring berkembangnya kita. Apa yang bisa kita lakukan lagi selain menerimanya untuk berkembang positif dan berhenti mengeluh?"
Itu rasanya makjleb banget .__. Saya lagi dalam posisi down dan cengok di depan GSP bersama sahabat saya, memandang lapangan luas dan orang berekpresi dimana-mana. Alih-alih mencari jalan keluar, saya justru mengeluh dan menangis. Kata orang *dan saya*, menangis memang melegakan, haha. Tapi mengeluh? Bismillah, buang jauh-jauh itu dari sekarang.. I try it, and it pretty works ;)

Oia, liburan! Apa sih arti liburan sekarang? bermalas-malasan di rumah, maen komputer seharian kayak jaman SMA dulu, traveling kemana gitu, hedon di mall? *pilih salah satu*

Liburan adalah merilekskan diri. Oke kok kalo kita mungkin jarang punya hari Sabtu Minggu. Toh mereka hanya hari. Kata om mario teguh, kasihan banget orang yang ketika hari kerja mikirin tentang hari Minggu, dan ketika hari Minggu justru mikirin kerjaan besok Senin. Dengerin musik sambil baca segepok buku dari pameran buku, itu liburan indah,di manapun *mentang-mentang abis borong, haha*. How about your holiday? Enjoy it! :)

Thank God for so much chances you gave to me in this year. Thank God for so much experiences you gave to me. Thank God.

oia, tunggu resensi buku unyu lainnya : MERABA INDONESIA :))