Berkemas

on Minggu, 25 Januari 2015
Mataku mengerjap. Refleks kutekan tombol on handphone, mengerjap sekali lagi, kali ini terkejut. Pukul 02.07 am. Hal yang luar biasa mataku masih bertahan hingga saat ini, setelah sejak pagi aku tidak memejamkan mata sedikit pun. Tersadar sekarang aku melewati "ambang batas kantuk"-ku. Kulirik cangkir kopiku yang tinggal sepertiga, menyesal. Sepertinya esok pagi akan kulewati dengan mata panda.

"Mbak Mia, apalagi yang kurang untuk besok? Mumpung mama mau ke supermarket hari ini. Cek lagi tas dan checklistnya. Roti udah? Teh kotak? Mentos? Sikat gigi? Kamu di rumah aja kan beres-beres?"

Pagiku hari ini diawali dengan kericuhan mama. Keluar kamar, rentetan pertanyaan memberondongku. Setengah sadar kujawab mamaku. Mengumpulkan nyawa, baru kujawab dengan rentetan jawaban dan request barang-barang yang kuperlukan. Meyakinkan mamaku aku akan di rumah, memastikan barang-barang bawaanku terkemas dengan baik. Memastikan bahwa dengan seluruh barang-barang yang dibawakan mama: koperku tidak overweight.

Pukul 02.10 am, mataku melirik ke sudut kamar. Berderet manis koper bagasi merah besarku, koper ungu kabin, tas jinjing cokelat warisan papa, ransel cokelat belelku yang masih setia, serta jaket tebal anti AC-ku. Seharian aku memberesi hal-hal tersebut, hingga akhirnya seluruh koper dan tas jinjing digembok dengan cantik. Besok aku dan barang-barangku akan melanglang buana, memulai hidup jauh dari keluarga. Satu yang belum kuberesi, kenangan.

Usai membereskan barang-barang tadi malam, tanganku usil membuka folder foto-foto di laptop, melihat perjalanan hidup. Teman, keluarga, orang tak dikenal. Berusaha mengingat-ingat momen dan perasaan saat foto-foto diambil. Hampir di seluruh foto, aku tersenyum atau tertawa. Kuingat lagi, benarkah saat itu aku tertawa? Padahal malamnya aku baru saja bertengkar dengan kakakku. Padahal malam sebelumnya baru saja ada orang yang tidak menepati janjinya. Padahal malam sebelumnya baru saja aku menangis semalaman.

Pukul 02.15 am.

Ah, orang datang dan pergi. Bahagia dan sedih silih berganti. Ada saat yang berat di hati, memaksa hati untuk menutup diri. Ada saat bahagia menghampiri, membuat senyum tersungging sepanjang hari. Seperti malam ini, aku tersenyum memandangi foto-foto itu. Foto-fotoku tersenyum, entah senyum dari hati, atau dengan luka di hati. 

"Jawaban dan kedamaian hanyalah untuk orang-orang yang mengerti. Mengerti bahwa Sang Maha Pembuat Rencana itu benar adanya. Kalau itu terlalu absurd untukmu dan kau ingin hatimu damai, cobalah mengerti bahwa memaafkan adalah obat terbaik. Memaafkan bukan siapa yang benar atau salah, bukan pantas atau tidak pantas, bukan rela atau tidak rela. Memaafkan adalah keputusan yang kaubuat dengan kesadaranmu, bukan dengan kerelaanmu. Kau sadar bahwa memaafkan adalah untuk kepentingan hatimu, bukan untuk orang lain. Suatu saat aku yakin kau akan mengerti, Mi.."

Aku termenung, memandang fotoku tertawa saat sedang outbond di Kaliurang. Aku ingat jelas, tawaku itu adalah jenis tawa menyamarkan luka. Teringat obrolan galauku dengan sahabatku, dalam hati mengakui bahwa sekali lagi sahabatku benar. Pada akhirnya aku dapat mengenang semuanya dengan tesenyum. Menertawakan kebodohanku, menertawakan kelabilanku, pun menertawakan kebahagiaan-kebahagiaanku. Aku siap melangkah esok pagi, bukan untuk meninggalkan kenangan, tetapi dengan mengemas rapi kenangan-kenangan. Mengemasnya di suatu tempat hingga akhirnya dengan tersenyum kubuka kembali.

Halo 2015

on Jumat, 23 Januari 2015
Halo penghujung hari ke-23 2015.

Sejak masuk kuliah, awal tahun biasanya saya 'rajin' untuk menuliskan resolusi aka target-target untuk tahun tersebut. Tugas membuat mindmap saat ospek sangat menginspirasi saya untuk menuliskan hal-hal semacam itu. Saya percaya bahwa menuliskan target akan membantu mewujudkannya. Saya masih percaya, hingga saat ini..

Tetapi, terkadang Allah juga menunda target-target tersebut. Namun lebih sering lagi, Allah memberikan hal-hal yang berada di luar target. Hanya 'mbatin', dan ternyata Allah mendengarkan. Membuat kita tersadar bahwa Allah-lah sang Maha Pembuat Rencana.

2015, saya tidak menuliskan banyak target seperti tahun-tahun sebelumnya. Hanya dua target yang tercanang: menuntut ilmu dengan baik di kesempatan yang telah Allah berikan; serta dilancarkan jalan untuk menggenapkan agama. Bismillah :)

Waktu

on Sabtu, 27 Desember 2014
Kelak kita akan tersadar: waktu adalah jawaban atas segalanya. Pada suatu saat, kita menilik ke belakang untuk menghubungkan berbagai titik. Titik saat kita ingin waktu dipercepat; titik ketika waktu serasa ingin kita hentikan sejenak. Namun, waktu pun terus berlalu. Kita berjalan; terus menemui berbagai manusia, berbagai panorama, melihat alam semesta. Terus berjalan, untuk menemukan sebuah jawaban.

Hingga akhirnya, waktu memberi jawaban atas segala pertanyaan. Kita akan pahami, mengapa jawaban tiba pada waktu itu; mengapa bukan lebih dulu? Karena sebaik-baiknya jawaban adalah jawaban yang tepat waktu, bukan jawaban yang terburu-buru.

Selamat menikmati waktumu! :)

destiny

on Minggu, 30 November 2014

See the sunrise

Know it's time for us to pack up all the past
And find what truly lasts
If everything has been written down, so why worry, we say
It's you and me with a little left of sanity
If life is ever changing, so why worry, we say
It's still you and I with silly smile as we wave goodbye
- Grow A Day Older (Dee)

Destiny, maybe that's what it called. Someday we'll found there are some little dots waiting to be connected. Catch up the right dot! Once we catch the right dot, still we have to put some efforts to make the line. But if it is destiny, if it has been written down, so why worry? No, I won't worry :) Good luck!


on Senin, 13 Oktober 2014
Hidup ini memang tentang "menunggu".
Menunggu kita menyadari: kapan kita akan berhenti menunggu
- Tere Liye.

Terkadang sesuatu begitu dekat, namun membuat tercekat. Semua tampak begitu sempurna, namun satu lubang mendasar menganga. Semua terlihat pasti, tapi masih harus menyadari kesiapan diri. Kesiapan untuk menyatukan visi, kesiapan untuk sedikit membelok dari mimpi. Ah, memang memerlukan instrospeksi dan kelegaan hati, sekali lagi.