Tepat Jam 12.00 Siang

on Kamis, 03 Februari 2011
Dia keluar rumah, dengan kostum lengkap untuk berjogging ria. Kaos gombor, celana training panjang, sepatu kets kesayangan yang sudah belel dan nyaman sekali dipakai. 

Jam 6.00. Matahari masih malu-malu, tidak ada bayangan di belakangnya. Dimulai dengan berjalan dulu, dia tidak ingin menghabiskan tenaganya di awal. Berjalan santai, mengamati sekitar, tersenyum dan menyapa orang-orang yang ditemuinya di jalan. Kapan lagi bisa bernafas dengan lega seperti pagi ini? Nikmatilah..

Jam 7.00, matahari meninggi. Tiba-tiba muncul bayangan yang begitu panjang di sampingnya, bayangan yang menuju ke arah barat. Dia tidak suka bayangan itu. Bayangan yang terus mengikutinya, menempel ke mana pun dia melangkah. Dia putuskan berlari, berlari dari bayangannya. Namun bayangan itu tetap menempel padanya, tetap mengarah ke barat. Semakin dia melihat bayangan itu, semakin dia ingin pergi. Mulailah dia berlari sekuat tenaga. Dia tidak bisa lagi menikmati udara pagi yang sejuk, tidak lagi mengamati sekitarnya, tidak menyapa orang-orang yang dia temui. Hanya berlari sekuat tenaga. Tidak apa-apa, anggap saja aku berolah raga sambil berkejaran dengan bayangan itu, pikirnya..

Jam 8.00. Matahari makin meninggi. Bayangan masih mengikutinya. Semakin pendek, tapi masih ada. Dia pun tetap berlari sekuat tenaga..

Jam 9.00. Kata orang-orang, jam 9.00 adalah waktu terbaik untuk berjemur, waktu terbaik untuk menyerap sinar matahari pagi. Dia mulai lelah, tetapi bayangannya masih ada. Dia putuskan untuk berjogging saja, tidak berlari lagi. Mencoba berdamai dengan bayangannya, sambil menikmati matahari pagi bersama si bayangan. Padahal dalam hati, dia masih ingin mengalahkan bayangan itu, menunjukkan bahwa dia lebih cepat dari bayangannya..

Jam 10.00. Bayangan makin pendek, matahari makin tinggi. Dia mulai menerima bayangan yang tidak juga menyingkir dari sampingnya. Tenaganya mulai habis, dia mulai merasakan timbunan asam laktat di kakinya, pegal..Joggingnya semakin pelan, dan dia mulai menikmati pemandangan di sekitarnya lagi, mulai tersenyum pada orang-orang yang dia temui..

Jam 11.00. Peluh makin membasahi keningnya. Dan bayangan masih ada, hanya sedikit, hampir tak terlihat. Dia tidak peduli lagi, bayangan itu ada atau tidak. Dia hanya ingin menikmati olahraganya hari ini. Langkahnya makin pelan, sekarang dia hanya berjalan. Menikmati udara yang semakin panas, melihat berbagai aktivitas orang-orang di sekitarnya. Dia berjalan menuju rumahnya.

Jam 12.00. Dia sampai di depan rumahnya. Lelah, lelah sekali setelah berkejaran dengan bayangannya. Matahari tepat di atas kepalanya, begitu terik tanpa ada awan yang menutupinya. Sambil membuka pagar rumah, dia melihat ke bawah, melihat sekeliling, mencari sesuatu yang rasanya hilang. Bayangan itu hilang, habis di bawah kedua kakinya. Tidak terlihat di sampingnya, hanya di bawah kakinya ada sedikit warna hitam. Tepat jam 12.00 siang.

Dia pun teringat sebuah kalimat dari sahabatnya :
Time will heal everything, every wound you've got


hmmm, tumben sekali saya menulis seperti ini? Haha :p.
 Kadang ketika saya mendapatkan masalah, saya begitu bersemangat untuk menyelesaikannya. Saya terus berlari untuk menyelesaikannya. Menghabiskan banyak tenaga saya untuk hal itu, dan ternyata bayangannya masih mengikuti, masih ada di samping saya. Saya masih memiliki banyak semangat untuk menyelesaikannya, untuk mengalahkannya, dan membuktikan bahwa saya kuat untuk menghadapinya. Dan terkadang masalah itu pun belum juga selesai, masih ada di samping saya, walau pun terus mengecil. Saya lelah, mencoba menerima masalah itu, membiarkannya tanpa berusaha mengalahkannya, dan berharap masalah itu akan segera hilang dengan sendirinya. Dan ternyata masih ada, dalam porsi yang lebih kecil, terus membayangi saya, padahal saya sudah mengikhlaskannya. Hingga pada suatu titik, saya merasa sebah. Tau apa arti sebah? Kata teman saya, sebah itu sudah tahapan paling akut, saya tidak peduli lagi dengan bayangan itu, saya biarkan saja dia terus ada. Dan saya akan menikmati hidup dengan cara yang saya temukan lagi. Saya akan menikmati hidup dengan bayangan yang kacil itu di samping saya. Sebah, hmmm kata yang aneh terdengar ya :p

Dan ternyata, suatu saat bayangan itu hilang dengan sendirinya. Di saat saya sudah tidak melakukan apa pun, di saat saya sudah ikhlas, di saat saya sudah sebah. Bayangan itu hilang. Tidak meghantui lagi. Hanya ada di bawah saya, di bawah kendali saya. Saya juga heran, kenapa dulu saya begitu ingin mengalahkannya? Tapi kemudian saya melakukan sedikit random talk lagi dengan pikiran saya, kalau saya tidak melakukan segala usaha yang dulu itu, kalau saya tidak berlari dari bayangan itu, bagaimana bisa saya merasa lelah, bagaimana bisa saya mengikhlaskannya? Karena bagi saya, kadang sulit mengikhlaskan sesuatu dari awal, orang berikhtiar dulu kan baru pasrah kepada Allah SWT? *inget pelajaran agama jaman SMP*

Pada akhirnya, bayangan itu akan ada di bawah kendali saya. Akan ada pagi-pagi lain yang menawarkan bayangan-bayangan lain juga untuk saya kendalikan. Dan saya akan menggiring bayangan itu hingga tepat jam 12.00 siang, mengendalikannya di bawah saya.

p.s. : time will heal everything :) *saya klise lagi, haha*

4 comment:

muchtar affandi mengatakan...

Abis jam 12 kan bayangannya muncul lagi yon?
Gimana dong?

Yonika Arum Larasati mengatakan...

bayangannya ditelan malam :O
*belum kepikiraaaaan!hahaha
bikin cerbung ah

muchtar affandi mengatakan...

Abis jam 12 siang terus malem?
zzzz..-_-"

Ditunggu sambungannya.
Sorry yee, sering nimbrung. <-- lebih suka bacain cerita, pusing bacain blog yg isinya sains
:D

Yonika Arum Larasati mengatakan...

bukan muchtar..
bayangannya memanjang lagi, tapi nanti kan kalo malem ilang :O *walaupun ada bulan sih*
tapi gatau mau nyambung2innya gimana, hahaha
gag punya jiwa filsafat nih -____-"
wooo liat aja ntar masuk kuliah blog ini isinya sintesis organik, farkin, KPA loh ;D

Posting Komentar

speak up! ;)